Mengajari Anak Bertanggung Jawab

 

Cara mengajari anak, cara mendisik anak,

 

Dalam buku Tarbiyah Aulad Fil Islam karya Ulwan Nasih, saya pernah membaca, kurang lebih, “Dalam diri manusia, dan segala apa yang ada di dalamnya, berupa kecenderungan, tabiat dan pembawaan. Apabila disirami dengan akhlak terpuji, pendidikan yang baik insya Allah, dia akan menjadi seorang hamba yang terpuji, bak malaikat yang berjalan di tengah ummat. Namun apabila dibiarkan dalam karat keboodohan, disirami dengan akhlak bobrok, maka dia akan menjadi samapah yang tak berguna, sayangnya dia merasa, dirinya terhormat.” Redaksi tepatnya saya lupa. Kurang-lebihnya seperti itu. Bisa baca sendiri ya, dalam buku tersebut. Buku tersebut sangat rekomended buat para orang tua. Bagus banget isinya.


Kalau untuk masalah pendidikan dan pelajaran untuk sekolah saat ini, bisa kunjungi blognya Kak Sepwal ya, di sana ada cara mudahmengajari anak di musim pandemi saat ini.


Anak adalah asset dunia akhirat bagi orang tuanya. Orang tualah yang akan mengantarkan mereka kepada kehidupan selanjutnya. Mau jadi apa, dan bagaimana, semua dimulai dari rumah, dari pendidikan orang tua. Karena itu, mendidik mereka dengan segala kebaikan dan tanggung jawab adalah wajib hukumnya. Agar kelak, ketika mereka telah lepas dari pengawasan kita, dan membaur dengan dunia luar, kita melepasnya dengan segala kebaikan yang mereka miliki. Sempurna seumpama malaikat yang berjalan di tengah ummat. Aamiin.


Langkah Mengajari Anak Bertanggung Jawab


BACA JUGA: LANGKAH SUKSES AJARI ANAK MENULIS


a.      Ajari Mereka Meminta Maaf


Suatu hari, ketika saya mengajak Nurul yang ketika itu baru berusia 14 bulan, bersepeda di lapangan, kami bertemu dengan beberapa ibu penjual camilan dan pembeli berkerumun di sebuah tenda. Salah satu dari mereka memanggil saya agar turut membeli. Begitu mendekat, salah seorang anak (Namanya Dhea) yang usianya mau tiga tahun, meminta turun dari gendongan ibunya. Mendekati Nurul. Belajar dari dua kali pengalaman sebelumnya (Anak tersebut pernah tiba-tiba mendorong tubuh Nurul hingga terjatuh, menampar pipi, dan mencakar), maka saya pun siaga.


Benar saja, anak tersebut mulai berusaha merebut sepeda Nurul. Nurul pun mulai teriak-teriak sambil berusaha melepaskan tangan si anak dari sepedanya. Saya sedikit bersabar untuk menunggu respon ibunya si anak. Tetapi si ibu hanya diam. Akhirnya saya yang mendekati si anak. “Maaf ya Cantik, Nurul belum mau meminjamkan sepedanya. Nanti ya kalo Nurul sudah turun.”


Tentu saja si anak tidak peduli. Namanya juga anak anak. Mungkin belum faham saya ngomong apa. Akhirnya saya merayu Nurul agar mau turun dari sepeda, dengan membelikannya makanan. Begitu Nurul turun, dibantu saudaranya, Dheab  langsung naik ke sepeda dan minta didorong keliling lapangan. Nurul yang tidak rela sepedanya dipinjam kembali teriak-teriak meminta sepedanya dikembalikan, hingga saya harus kembali merayu agar mau meminjamkan.


Tidak butuh waktu lama, saya melihat sepeda sudah berada di pinggir jalan raya. Saya meneruskan menyuapi Nurul.


Tidak lama kemudian saudara Dhea yang tadi mendorongnya memanggil saya. “Tante patah.” Sambil menunjukkan pegangan (buat mendorong) sepeda yang telah patah.


“Diteken ya?” Tanya saya.”


“Iya.” sahut si anak. Saya coba melirik si Ibu. Dia sempat juga melihat ke arah anaknya. Namun lagi-lagi dia tiada respon. Akhirnya kepada ibu Dhea saya bicara, “Tante, tu anaknya matahin sepeda Nurul.”


Baru kemudian si ibu mendatangi anaknya. Kepada saya dia berkata, “Ini memang mudah patah Mbak. Punya Dhea juga udah patah.”


“Usianya belum satu bulan lho ini.” Sahut saya.


“Punya Dhea ge dua hari juga udah patah.” Lanjutnya.


Saya diam, menunggu dia mengajari anaknya meminta maaf pada Nurul. Toh Dhea juga sudah pandai menirukan apa-apa yang didengar. Sayangnya si ibu tidak juga melakukan itu. Justru melanjutkan panjang kali lebar pendapatnya. Ucapan ‘maaf’ yang saya tunggu tidak keluar dari mulutnya. Boro-boro mengajari anaknya untuk meminta maaf, dia justru terus mencari pembelaan. Padahal saya juga tidak meminta untuk diganti.


Sebenarnya, mulut saya sudah hampir mengucap, “Ayo Kak Dhea, minta maaf ke Nurul.” Tetapi saya hanya bisa diam ketika si ibu masih terus bicara sambil berjalan menjauhi kami. Jelas hati saya dongkol.


Sambil pulang, saya terus berfikir, jangankan ini cuma sepeda, benda mati. Yang anaknya jelas-jelas nyakitin Nurul saja, dia tidak meminta maaf.


b.      Ajari Etika Bergaul Dengan Teman


Cara mendisik anak dengan benar

Pada kasus tertentu, meminta maaf memang bisa dirasa berat, begitu sebaliknya memaafkan. Tetapi, jika kita tahu bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan, mengapa tidak? Jangan sampai karena ego kita jadi tidak tahu etika bergaul dengan sesama.


Apa jadinya jika anak-anak juga tidak diajari etika sejak kecil? Yang ada dia akan ngelunjak setelah besar nanti. Tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Naudzubillahimindzaalik.


Sekecil apa pun, sebuah kesalahan tetaplah salah, dan jika kaitannya dengan manusia, maka wajib meminta maaf. Lha wong yang meminta maaf saja terkadang sulit dimaafkan, apalagi tidak meminta maaf? Ye kan?


Adalah betul, kasus di atas hanya tangkai sepeda buat mendorong, selama si kecil belum bisa mengayuh sendiri. Tidak seberapa mempengaruhi kinerja sepeda. Hal sepele. Tetapi, ada yang lebih penting dari itu. Yaitu akhlak. Pembentukan karakter.


Sejak kecil anak sudah mulai mencontoh dan menyerap apa yang diajarkan orang di sekitarnya. Terutama kedua orang tuanya. Jika dalam masa belajarnya itu, dia dibiasakan tidak peka dengan perasaan orang lain, merusak barang orang lain dianggap lumrah, mau jadi apa nantinya?


Usia 1 – 3 tahun mungkin memang belum mengerti. Tetapi tetap perlu lho diajarkan sedini mungkin. Agar, jika dia besar nanti, si anak sudah memiliki dasar untuk selalu memahami perbuatannya.

 

NOTE: Repost dengan editan dari postingan blog yang hilang.

Ida Raihan
Ida Raihan

Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga Dengan Dua Orang Anak Yang Suka Menulis Dan Membaca

16 comments:

  1. Benar kak, anak harus diajarkan hal basic yang sifatnya fundamental dalam kegiatan hariannya, ya. Kaya ngajarin kata maaf, terima kasih dan tolong. Yang ternyata sering dilupakan sama orang dewasa

    ReplyDelete
  2. Di rumah kami ada 3 password yang harus dimiliki anak kak..

    Yang pertama, tolong, kedua maaf, ketiga terimakasih.

    Lalu anak-anak juga dibagi tugas rumah harian agar bisa bertanggung jawab dengan sekitar.
    Meski gak sempurna tapi mengajari dari awal memang lebih mudah dibanding nanti setelah dewasa.

    Buku Tarbiyatul Aulad memang bagus ya kak..

    ReplyDelete
  3. nah bener mbak kata wajib diajarkan untuk anak adalah, maaf, tolong dan terima kasih..sedangkan untuk sikap mungkin bisa mulai dari jng buang sampah dan antri

    ReplyDelete
  4. Hal sederhana sering kita lupakan seperti Berterima kasih mengucapkan kata maaf jadi harus memang diajarkan agar anak2 bisa menerapkan dalam kesehariannya

    ReplyDelete
  5. Sepakat...penting sedini mungkin mengajarkan anak hal hal baik. . Ini akan menjadi bekal hidup bersosialisasi . . Udah biarkan saja orang tua yg cuek terhadap pendidikan karakter anak

    ReplyDelete
  6. Jadi ingat ngajarin anak untuk terbiasa berkata : tolong, terima kasih, dan minta maaf.

    ReplyDelete
  7. Bener nih mba, kadang sudah minta maaf aja kita masih belum dimaafkan. Yang penting niat sudah minta maaf ya mbak Perkara dimaafkan atau tidak itu biar Allah yang menilai

    ReplyDelete
  8. setuju mbak ida..anakku semenjak bisa bicara sering kami ajari cara mengucapkan terima kasih, maaf dan tolong. tetapi mmg sebaik2nya ngajarin itu dgn teladan sih..

    ReplyDelete
  9. Kalau kata orang, anak cerminan orang tua dan buah tak pernah jatuh jauh dari pohon nya, sepertinya memang benar adanya.

    Seperti apa perlakuan kita terhadap orang lain,itulah yang akan di copy oleh sang anak.
    Bila kita menghargai orang pastilah kita akan mengajarkan anak hal demikian.
    Dan kata tolong,minta maaf,terimakasih sebagian orang anggap sepele tetapi sangat penting makna nya

    ReplyDelete
  10. mengajari anak bertanggung jawab selain berkata minta maaf, tolong dan terima kasih. Biasanya dengan buang sampah pada tempatnya ya kak, sama membereskan tempat bermainnya.

    ReplyDelete
  11. untuk pertumbuhan anak menjadi orang hebat

    ReplyDelete
  12. Ish bacanya kog aku geregetan sih, kalau aku pasti akan bilang. Nggak mau tahu pokoknya baikin seperti semula

    ReplyDelete
  13. Saya belum punya anak, nanti kalau sudah punya anak kayaknya saya juga bakalan menerapkan ini. Makasih artikelnya kak

    ReplyDelete
  14. Jika kita sering ucapkan bunda minta maaf ya nak, eh anak juga meniru ya kak. Kalau ada yang tidak sesuai segera ia meminta maaf. kata-kata tolong, dan terimakasih begitu juga.

    ReplyDelete
  15. Setuju, sejak dini anak memang harus diajarkan hal-hal dasar kayak minta maaf dan terima kasih, termasuk juga cara bergaul dengan teman. Biasanya saya pake buku cerita sebagai pengantarnya

    ReplyDelete
  16. nah ini bener nih, apalagi kalau ada temennya minjem mainan kadang plit banget haha. atau minjem mainan temennya tapi malah dirusak, haha. duh, duh. baca ini jadi harus tau bagaimana mengajari anak untuk tanggung jawab.

    ReplyDelete