Tradisi Berbagi Bubur di Kalisari



Yang namanya tradisi terkadang memang membingungkan bagi orang baru seperti saya. Sejak tinggal di Surabaya, rasanya hampir setiap hari ada saja yang  mengantar makanan ke rumah. Satu dua nasi box. Lontong sayur, atau mie goreng, seringnya sih bubur.

Jenis bubur yang mereka antar pun beda-beda. Ada yang bubur beras dengan warna gula merah campur bubur beras warna putih topping santan. Ada yang bubur beras putih, manis gurih, yang di dasarnya terdapat nasi ketan. Dengan topping remasan kerupuk warna warni, irisan cabe merah besar, irisan telor goreng tipis, dan tempe dadu goreng. Ibu mertua mengatakan itu bubur Suroan. Adanya di bulan As Syura.

Ada pula bubur dari berbagai campuran. Tepung sagu, kacang hijau, mutiara, sumsum.



Dan yang terakhir, bubur tepung warna coklat, terdapat candil ketan dan nangka di dalamnya. Siram santan kental di atasnya. Ibu mertua mengatakan, itu bubur syafar. Adanya di bulan Syafar.

Menurut ibu mertua, sudah menjadi tradisi di kampung Kalisari - Surabaya ini berbagi bubur di bulan-bulan tertentu. Unik sih, tetapi sebuah tradisi tentu lebih baik jika tak dipertanyakan. Anggap saja mereka berbagi rejeki.

Khusus di bulan Syura, warga di sini juga mengadakan kegiatan "sedekah bumi". Warga berkumpul di satu tempat dengan membawa makanan, untuk dimakan bersama-sama. Kegiatan ini biasanya diisi dengan pengajian, sholawat nabi, dan lain-lain yang berkaitan dengan keagamaan. Kebetulan di tahun pertama saya di sini, saya tidak bisa hadir di acara sedekah bumi tersebut, padahal lokasinya sangat dekat. Kalo tidak salah waktu itu karena saya mendadak sakit kepala.

Bagaimana dengan tradisi di desamu, Mak?
Ida Raihan
Ida Raihan

Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga Dengan Dua Orang Anak Yang Suka Menulis Dan Membaca

25 comments:

  1. Unik, ya. Di tempat saya tak ada yang seperti ini
    Ad yang berbagi sih tapi bukan di waktu tertentu. Bisa sewaktu²

    ReplyDelete
  2. di daerahku nyebutnya jenang abang. padahal yo gak merah2 banget
    ada juga yang nyebutnya bubur sruntul. hoho

    ReplyDelete
  3. I lovveeee tradisi kayak gini Mbaaa
    Kearifan lokal khas Nusantara
    https://bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  4. LIat buburnya ingat bubur merah putih yang suka dibikinin ibuku dulu. Kalau tradisi begini memang wajib dilestarikan ya mbak.

    ReplyDelete
  5. BUbur kayak gini kalao dimakan kondisi hangat-hangat tentunya lebih nikmat ya. Ini pakai gula merah khan mbak?

    ReplyDelete
  6. Tradisi di setiap daerah memang berbeda ya, Mbak. Dan itulah yang membuat Indonesia kaya dengan tradisinya.
    Kalau di Gombong Kebumen sini, itu tradisi bagi makanan, Mbak. Jadi kayak besek. isinya nasi dan lauk-lauk. Disebut juga among-among. Pokoknya dari syukuran lulus sekolah, syukuran diterima kerja, sampai syukuran beli kendaraan baru itu diamong-among.Kalau bubur malah tidak pernah.

    ReplyDelete
  7. Di Banda Aceh juga ada tradisi di bulan maulid Nabi SAW.

    Biasanya acara maulid diselenggarakan di sekolah2, pengajian2, atau pun instansi2 pemerintah dan swasta.

    Tapi klo di Banda Aceh, di rumah2 warga pun mengadakan acara maulid, dengan mengundang tetangga, kerabat, handai taulan, dan dijamu makan.

    Hampir setiap rumah ngadain. Senang sekali

    ReplyDelete
  8. Seru kali ya liburan ke Surabaya, pas ada tradisi sedekah bumi diadakan,pastinya kenyangg nih ama bubur

    ReplyDelete
  9. Di kampungku di Kediri ada juga Mbak, bermacam-macam bubur. terus di bulan Suro (penanggalan Jawa ) ada Bersih Desa yang kayak Sedekah Bumi itu

    ReplyDelete
  10. Tradisi itu memang selalu mengesankan karena unik dan terkadang di luar nalar. Tapi banyak kisah dan pembelajaran yang diperoleh dari setiap tradisi.

    ReplyDelete
  11. Ini buburnya menarik sekali, udah kebayang rasa manis dan gurihnya. Kalau aku posisi di Jakarta, ga ada tradisi seperti ini, jadi bulan syafar ya biasa aja.

    ReplyDelete
  12. Aku jd laper dan mau cobain kue bikinan mba deh

    ReplyDelete
  13. Kebetulan kami gak punya tradisi begitu mbak,
    kalo di tempat kami nama bubur yang umum, bubur merah putih, bubur sumsum dan bubur cardIl

    ReplyDelete
  14. Tradisinya unik yaa mbak. Tadi pas baca judulnya, yang kebayang semacam bubur ayam gitu. Eh ternyata bubur yang lain. Hihihihi. Jadi penasaran nih sama rasanya.

    ReplyDelete
  15. tradisinya unik nih, aku pernah nemu di beberapa daerah yang seperti ini dan memang kekeluargaanya dapet banget

    ReplyDelete
  16. Aku baru tau sih ini,unik ya .. kalau di desaku biasa aja gak ada tradisi sih

    ReplyDelete
  17. Ini unik banget mbak. Kalau di tempatku sedikit hilang tradisi di bulan as-syuro mba. Paling cuma ngaji aja ya di Langgar sama selametan gitu. Untuk merayakan dengan menu khas seperti bubur di Kalisari ini nggak ada mbak. Hihi

    ReplyDelete
  18. wah, aku mengenalnya jenang. Belum pernah dengar tradisi ini sebelumnya, seru yaa

    ReplyDelete
  19. Jadi tahu saya ternyata jenis bubur itu bermacam macam yac setiap daerah . Kebetulan aku juga dengan bubur yang rasanya manis gurih.

    ReplyDelete
  20. Wah, bagus tradisinya, semoga akan terus tetap ada hingga anak2 kenal ya dengan tradisi ini & jadi tahu nama2 makanan seperti bubur Syafar ini

    ReplyDelete
  21. Tradisi seperti ini jarang ditemui di kota besar seperti yang ada di Jakarta, kak.

    Seharusnya sih ada supaya kita bisa mengenal sejarah dari tradisi ini dan biar lestari antar lintas generasi*

    ReplyDelete
  22. Ini aku taunya bubur merah bubur putih. Cuma sekali makan deh, lupa waktu itu ada moment apa tapinya.

    ReplyDelete
  23. Wah kebetulan AQ suka bgt SM bubur nya, kl d tempat q ada bubur merah putih dan bubur sumsum. Msh d pake kl buat kl ada bayi Puput pusar,atau habis ada acara hajatan. Perlu d lestarikan mmg yg sprt ini

    ReplyDelete
  24. Ragam budaya bgt yaaa.. dan msh dilestarikan. kupikir kalisari di jakarta ternyata du surabaya..

    ReplyDelete
  25. Ragam budaya bgt yaaa.. dan msh dilestarikan. kupikir kalisari di jakarta ternyata du surabaya..

    ReplyDelete