Pages

10 November 2018

Tips Membuat Baju Couple Anak Bunda Dalam Waktu Sempit

Hasil akhir


Seorang ibu itu dituntut harus cerdas dan serba bisa. Apalagi kalau anak-anaknya sudah rajin dengan seribu pertanyaan setiap hari. Seorang ibu harus bisa menjadi dictionary yang tidak boleh salah memberikan jawaban. Karena bakal direkam seterusnya dalam memory si anak.

Seorang ibu juga harus bisa memasak makanan favorite keluarga. Termasuk makanan favorite anak. Kalau yang ini saya belum bisa menemukan, makanan apa yang disukai anak saya. Soalnya doi susah banget suruh makan apa saja. Kalo ngemil jajanan doyan.

Naaah kalau soal fashion, seorang ibu, tidak dipaksa kudu bisa menjadi designer dan penjahitnya. Dia hanya cukup memilihkan saja di toko-toko, mana yang cocok buat si anak. Jika bisa membuat sendiri, itu hanya nilai plus saja *menurut saya loh Makkk. 😃


Penampakan belakang


Empat hari kemarin, saya disibukkan oleh kegiatan soal baju ini. Pasalnya pertengahan bulan nanti adik ipar menikah, dan kami sudah dikirimi bahan untuk seragam iringan pengantin. Awalnya kami sempat bingung, apakah akan datang atau tidak ke pernikahan tersebut. Alasannya, biasa, soal budget. Karena untuk ke Surabaya tiga orang (iyah, anak kami sudah 2 tahun bulan ini, jadi sudah membayar tiket sendiri) tentu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Akhirnya ya sudah, diputuskan belum bisa datang di acara karena memang kondisi. Jadilah bahan tidak dibikin dulu.

Semakin mendekati hari pernikahan, suami juga tampak galau, pasalnya, doi mendapat panggilan dari keluarganya. Intinya akan dibelikan tiket untuk satu perjalanan ke sana. Saya gak mau ditinggal dong, selain saya sedang hamil muda yang tidak boleh kecapekan, di tempat kami air lagi susah. Buat semua kebutuhan perairan ini kami sudah menumpang di mushola.

Proses potong bahan bolak-balik ketunda karena bocah kepo


Ibu saya yang notabenenya adalah kunci kekuatan di keluarga sedang dalam pemulihan masa pengobatan pasca kecelakaan motor bareng ayah. Adik saya sedang wira-wiri proses cari kerja, jarang di rumah.

Otomatis, kekuatan yang tersisa ada di suami. Kebayang kan, jika saya harus di rumah, ditinggal suami pergi dalam kondisi begini? Anak aktif lari dan suka manjat sana sini, susah dikendalikan.

Jelas, saya merasa galau juga. Ambil air ke mushola buat kebutuhan sehari-hari merupakan tugas berat. Apalagi kondisi saya yang sedang sering drop bawaan bayi. Sering mual dan pusing hingga terpaksa harus berbaring sepanjang hari di atas tempat tidur. Apa jadinya jika saya tiduran anak lari-larian di halaman tanpa pengawasan? Konon katanya musim penculikan anak. Gak berani bayangin dah.

Singkat cerita kami memutuskan untuk tetap berangkat dengan tambahan dana dari meminjam ke saudara. Alhasil saya pun mencari penjahit untuk menjahit seragam kami agar bisa dipakai.

Daaaan, yang terjadi adalah, semua penjahit menolak!

Selain bahan dianggap sulit (bahan puring luar ada tile yang besar-besar sehingga merepotkan proses penjahitan), waktu tiga hari seperti yang saya pinta, dianggap terlalu cepat oleh mereka. Akhirnya saya memutuskan untuk menjahitnya sendiri, apa pun hasilnya.

Hari Senin belanja peralatan menjahit, gunting, jarum, benang, dan meteran. Sampai rumah saya memotong bahan, suami, dibantu Mamak, membetulkan mesin jahit punya Mamak yang lama tidak dipakai, karatan di mana-mana. Jelang maghrib potong bahan selesai.

Selasa mulai menjahit sekaligus menambah kekurangan potongan. Lumayan ribet karena ini merupakan pertama kalinya saya menjahit pakaian berfuring. Apalagi dengan tile yang besar dan tidak bisa tembus jarum. Terpaksa harus dicabutun dulu tilenya.

Dihari ketiga, punya saya jadi. Sungguh tidak puas dengan hasilnya. Namun okelah untuk seorang amatiran dan dalam kondisi kejar tayang plus penuh keterpaksaan, karena penjahit sudah menolak semua. Hikz, Hikz... mewek bombay.

Hari berikutnya, punya Ci Cantik Nurul jadi. Alhamdulillah walaupun masih banyak kekurangan di sana-sini (ini mah bahasa alus menutupi ketidaksempurnaan), rasanya tetap senang karena telah berhasil membuatkan baju untuk buah hati tercinta.

Ini yang saya lakukan dengan keterbatasan waktu, dan keterbatasan kemampuan.

1. Bikin saja apa yang pertama tercetus dibenak kita. Agar lebih mudah memotong bahannya. Karena kan biasanya apa-apa kalau sudah masuk ke pikiran kita, lebih mudah mengalirnya tu. Iya nggak, Mak? *Iyain ajalah ya :D

2. Usahakan sesimple mungkin. Apalagi kalau bahannya jenis bahan yang sulit seperti punya saya tersebut. Sudah dibikin sederhana (sangking sederhananya sampai gak pede make saya. Hahahaha) pun masih kesulitan ngejahitnya. *Gak bisa aja kelles penjahitnya. Wakakakak...

3. Fokus. Abaikan pekerjaan rumah sementara. Biarlah dikerjakan oleh yang lainnya. Suami, Ayah, atau Ibu misalnya. Kita kejar target aja. Yang penting baju jadi. Hihi...

Itu aja sih. Daaan, apa pun hasilnya, syukurin aja. *Yang ini menghibur diri. Hehe...

Setelah semua ini, saya jadi memiliki keinginan kuat untuk bisa kursus jahit agar kelak bisa membuat baju yang bagus untuk keluarga dan buat usaha. Plus, punya keinginan memiliki mesin yang lebih layak untuk digunakan agar lebih nyaman dalam pengerjaan jahit-menjahit. *Ngincer merk Brother.


No comments:

Post a Comment