0
Home  ›  My Story

Menghadapi Kehamilan Tak Terencana



Hamil ketika anak masih kecil kadang bisa menjadi sebuah pukulan tersendiri bagi seorang wanita. Pada beberapa kasus, kehamilan yang belum direncanakan bisa menjadi kejutan yang menggembirakan. Tetapi pada sebagian lagi justru sebaliknya, kehamilan yang belum diinginkan dapat membuat wanita down berkepanjangan. Khususnya bagi mereka yang belum lama melahirkan anak pertamanya. Lagi seneng-senengnya mengurus anak pertama, tahu-tahu sudah terlambat menstruasi dan muncul dua garis merah saat melakukan testpack!


Kejadian inilah yang saya alami pada kehamilan anak kedua. Rasanya sungguh luar biasa, karena saya belum siap lahir batin.

Anak pertama baru berusia 17 bulan ketika saya terlambat menstruasi. Dan mendapati dua garis merah di stik testpack pagi itu. Padahal saya baru mens 3x sejak kelahiran anak pertama. Rasanya saya ingin marah ke suami. Bagaimana tidak? Anak masih terlalu kecil dan membutuhkan perhatian extra. Kami baru saja pindah dari Cikarang ke Lampung. Baru memulai merintis usaha, dagang kecil-kecilan dengan rencana besar. Tetapi bagaimana bisa menjalankan rencana besar itu, jika baru dimulai dari yang kecil saja terus terhenti? Ya, usaha terpaksa terhenti karena saya pusing hebat. Lemas dan mual-mual, mabok!

Diam-diam, saya berharap agar keguguran.
Usia kandungan memasuki 4 bulan, kami ke Surabaya. Dan di sini, banyak hal yang membuat saya semakin depresi. Dari kondisi ekonomi yang sedang berada di titik nol, sehingga apa yang saya inginkan semua harus ditahan. Tidak bisa memeriksakan kandungan karena tiada uang, sementara BPJS menunggak pembayarannya. Merasakan tidak nyamannya, tinggal dan makan menumpang di rumah mertua, hingga ke suami yang sering dipanggil mantan untuk diajak ketemuan. Membahas masalah anak, katanya. Semua itu sangat mengusik kenyamanan hati saya.

Akhirnya Berdamai

Usia kandungan memasuki 6 bulan saya mulai merasakan mudah lelah. Khususnya ketika mencuci perabot dapur, mengepel lantai, dan menjemur pakaian. Tiga pekerjaan ini membuat saya serasa kehabisan tenaga dan napas. Butuh waktu berjam-jam tiduran untuk memulihkannya kembali. Sayangnya, terkadang saya masih harus berlari lagi, untuk mengejar batita yang tiba-tiba keluar rumah mengejar kupu-kupu atau kucing. Berlarian bersama anak-anak sekitar.

Tetapi, saya juga mulai bisa menghadirkan penerimaan. Bahwa saya memang sedang hamil, dan harus menjaga bayi di dalamnya. Banyak nasehat yang saya terima agar saya tidak stress, menjaga asupan gizi, selama mengandung, karena kalau tidak, bisa berakibat tidak baik bagi si bayi. Saya pun mulai memperbaiki pikiran.



Berfikir Positif

Kepada janin saya katakan, “Kamu harus jaga dirimu sendiri ya, harus berjuang sendiri, dan kuat. Karena Bunda tidak akan memanjakanmu.”

Bukan berarti saya benar-benar tidak peduli. Saya tetap berusaha agar dia sehat. Memohon kepada Sang Maha Memiliki, agar dikaruniai rezeki buat memeriksakannya ke dokter, memohon agar dia sehat dan normal. Cerdas dengan IQ tinggi, dan tampan (tapi dia perempuan ternyata). Memohon kepada Sang Mahakaya, agar dikaruniai rezeki buat lahiran dan mencukupi segala kebutuhannya. Menanamkan kepercayaan, bahwa kehadirannya akan membawa rezeki tersendiri bagi keluarga kami.
Alhamdulillah semua Allah mudahkan. Dan kehadirannya pada 26 April 2019 lalu, telah menambah warna kebahagiaan baru bagi kami. Kasih sayang kami tidak ada bedanya dengan saat kehadiran anak pertama dulu.

Sekelumit kisah kehamilan kedua. 

82 comments
Search
Menu
Theme
Share
Additional JS