Mata Kering, Insto Dry Eyes Solusinya


Hidup di zaman serba digital memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk menjalani rutinitas kehidupan. Banyak keperluan yang bisa didatangkan hanya dengan sentuhan ujung jari. Mau keluar rumah, malas bawa kendaraan, cukup raih ponsel dan sentuh dengan ujung jari. Maka kendaraan akan datang menjemput sesuai pesanan. Mau makan malas masak, juga cukup dengan sentuhan lembut jemari tangan di layar ponsel. Maka tidak lama kemudian, akan datang makanan sesuai yang kita pesan. Alhasil, hidup kita  tidak pernah jauh dengan yang namanya gadget. Akibatnya mata jadi terlalu sering berhadapan dengan radiasi layar gadget.

Belum lagi dengan urusan pekerjaan. Sebagai orang yang pernah menulis dan menerbirkan buku, saya pernah dipercaya untuk mengedit naskah sebuah buku.

“Besok naik cetak ya, Mbak Ida.”
Hah? Dalam satu malam saya harus menyelesaikan editan naskah untuk sebuah buku. Gak kuaat… tetapi demi pekerjaan saya pun, “Yes Sir!” dan lembur untuk mempersembahkan yang terbaik sebisa saya. Akibatnya,  mata pegal, perih dan sepet saya dapatkan dengan kerja lembur tersebut. Ditambah, keesokan harinya saya harus ngantor. Dan lagi-lagi pekerjaan saya memaksa saya harus duduk di depan komputer selama berjam-jam.

Gejala Mata Kering

Setelah menikah, saya tidak lagi bekerja di kantor, tetapi membantu suami membuka warung makan. Sebagai orang yang memiliki hobi menulis, meskipun telah disibukkan dengan urusan warung makan, saya tetap tidak bisa meninggalkan kesibukan di depan layar komputer. Ngeblog dan jualan online tetap saya lakukan dengan memanfaatkan ponsel dan laptop. Lumayan untuk menambah isi rekening sendiri, tanpa harus ngerecokin uang pemberian suami jika sewaktu-waktu ingin menyenangkan diri sendiri atau membantu keluarga.

Saat ini, warung makan kami telah  tutup. Hobi ngeblog saya tidak tutup donk. Saya masih menulis sekaligus jualan online. Alhamdulillah.

Sebagai emak zaman now yang memiliki kesibukan mengurus online shop, dan sekaligus merangkap sebagai Blogger, berada di depan laptop dan ponsel tidak dapat saya hindari setiap harinya.  Upload gambar produk, membalas komen, update kegiatan di sosial media dan menulis untuk posting di blog, sehingga membuat mata terus-menerus terfokus pada layar gadget. Terkadang hingga mata terasa sepet, dan pegal juga, tetapi saya sering mengabaikannya. Kalaupun ada tindakan  yang saya lakukan, biasanya adalah menguceknya. Alih-alih hilang mata pegal dan sepet, yang ada justru membuat mata menjadi semakin perih dan memerah. Saya lupa bahwa mata ini membutuhkan istirahat.

Selama dua puluh empat jam di rumah, dan mengasuh dua anak, waktu saya memang hanya dihabiskan di depan layar gadget. Jika batre ponsel habis, saya akan pindah ke laptop untuk melanjutkan mengetik. Dari situlah akhirnya saya mengalami mata sepet, mata pegel, dan mata perih. Awalnya saya tidak tahu jika itu semua adalah gejala mata kering karena saya terlalu lama menatap layar ponsel yang terus memancarkan sinar radiasi di depan mata saya. Padahal jika sudah begitu, tidak ada pilihan lain, selain menaruh gadget jauh-jauh dari jangkauan dan tidur. Alhasil rugi waktulah saya, karena dipakai untuk tidur. Waktu yang seharusnya produktif melayang karena gejala mata kering yang membahayakan. Beruntung saya segera menyadarinya. Sehingga selalu menyediakan obat tetes mata untuk mengatasi gejala mata kering.



Atasi Dengan Insto Dry Eyes

Untuk mengatasi gejala mata kering, sebaiknya lakukan hal-hal berikut:
1. Istirahatkan mata. Pastikan mata peroleh istirahat yang cukup, agar gejala mata kering tidak kita alami.

2. Minum air yang cukup. Ini akan membantu agar selaput lendir mata tetap lembab.

3. Gunakan obat tetes mata. Ya, Insto Dry Eyes,http://insto.co.id dapat mengatasi mata lelah pegel, perih, mata  sepet dan mata kering.

Sekarang bisa donk bilang, "Bye mata kering!"

Hidup di zaman serba digital memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk menjalani rutinitas kehidupan. Banyak keperluan yang bisa didat...

Film Mahasiswi Baru Kisah Unik Persahabatan


Judul Film: Mahasiswi Baru
Genre: Komedi
Sutradara: Monty Tiwa
Pemain: Widyawati Slamet Rahardjo, Karina Suwandi, Morgan Oey, Mikha Tambayong, Umay Shahab, Sonia Alyssa, Iszur Muchtar, Ence Bagus
Produser: MNC Picture
Tayang: 8 Agustus 2019

Apa jadinya jika seorang nenek-nenek menjadi anggota geng di sebuah kampus yang anggotanya anak muda semua? Membaur dan bertindak seperti anak muda lainnya? Pasti seru ya. Secara, orang tua dan anak muda kan memiliki banyak perbedaan pandang gitu loh. Kalau pun di dunia ini ada persahabatan antara nenek dan remaja, pasti mereka secara tidak langsung akan menempatkan diri di posisi masing-masing. Yang muda menjadi pendengar, sementara yang tua akan menjadi penasehat yang baik. Tetapi di film Mahasiswi Baru, hal demikian tidak berlaku. Karena usia tidak menjadi penghalang bagi para remaja kampus untuk tetap memanggil yang tua dengan namanya saja. Lastri.

Sebuah Film yang dibintangi aktris kawakan Widyawati ini menyuguhkan sesuatu yang sungguh berbeda. Seperti realita yang tertukar. Kenapa? Film ini mengkisahkan seorang wanita usia 70 tahun yang menjadi mahasiswi di sebuah kampus. Lastri yang statusnya sudah sebagai Oma, sekaligus ibu dari anaknya, Anna, yang sudah berusia 40 tahun lebih,  yang sebenarnya keberatan jika ibunya mengambil kuliah lagi, terpaksa sering mendapat protes. Keributan antara mereka pun sering tak dapat dihindari. Anna yang sering menasehati ibunya agar tidak begini-begitu. Sementara Lastri selalu membantah dan mencari kesenangannya bersama gengnya.



Salah satu contoh perlawanan, Lastri kepada anaknya adalah, ketika ia mengancam untuk angkat kaki dari rumah mereka. Di sini adegan lucu pun terjadi. Lastri beneran mengangkat kakinya ke atas ke sofa. Hahaha.

Kisah ibu dan anak dan ibu di  film ini sungguh bertentangan dengan realita masa kini, yang biasanya kebandelan dan pembangkangan dilakukan seorang anak, di film ini justru kebalikannya.



Meskipun Mahasiswi Baru ini banyak konflik antara ibu dan anak, tetapi film ini dibalut dengan sentuhan komedi yang super kocak. Seru dan lucu. Ada Morgan Oey yang dengan wajah gantengnya ternyata bisa juga membuat penonton tertawa ngakak.

Selain Widyawati dan Morgan Oey, aktris ternama seperti Slamet Rahardjo, Karina Suwandi, Mikha Tambayong, Umay Shahab, Sonia Alyssa, Iszur Muchtar, dan Ence Bagus juga mewarnai kelucuan di setiap adegan film yang bakal tayang di bioskop pada 8 Agustus 2019 ini.

Terakhir, meskipun film Mahasiswi Baru ini, berbalut komedi, ada pesan yang bisa dipetik. Di antaranya, Belajar itu, bisa dilakukan oleh siapa saja. Karena menuntut ilmu tidak mengenal usia”. Seperti yang dicontohkan oleh Lastri. Meskipun usianya sudah 70 tahun, ia tetap kuliah.

Dari menonton trailernya saja Film Mahasiswi Baru ini sudah mampu mengocok perut, apalagi jika menonton full movienya ya? Yoaa Braaay... Rasanya tidak sabar menunggu tontonan yang pas buat hiburan seluruh keluarga ini segera tayang.

Judul Film: Mahasiswi Baru Genre: Komedi Sutradara: Monty Tiwa Pemain: Widyawati Slamet Rahardjo, Karina Suwandi, Morgan Oey, M...

5 Pekerjaan Tidak Akan Kelar Jika Dikerjakan Suami


Punya suami yang ringan tangan suka membantu urusan rumah tangga tentu sangat menyenangkan. Bisa diajak berbagi tugas dalam merapikan rumah dan mengurus anak. Tetapi ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dipercayakan kepada suami lho. Pekerjaan yang bila diserahkan doi yang melakukan justru semakin tambah berantakan.

Apa saja sih? ini dia kelima pekerjaan tersebut.

1. Mengasuh Anak
Banyak wanita sepakat. Jika seorang suami dititipin anak untuk ditinggal bepergian, tetap menimbulkan was-was di hati. Pasalnya kebanyakan suami tidak bisa dipercaya kemampuannya mengurus anak.

Cung, siapa yang pernah nitipin suami ngejagain anak saat kita tinggal beberes rumah, saat kembali untuk melihat keadaan, yang terjadi justru sebaliknya, anak yang ngejagain ayahnya, karena ayahnya tertidur? Atau ayah tidur si anak entah sudah sampai kemana. Merangkak, merambat pergi sendiri?

Beruntung nggak dikucurin air toilet. Upz... Ini mah saya!

Cerita dikit yak, sewaktu Nurul Ikhlas (anak pertama) berusia 14 bulan, dia suka sekali bermain di kamar mandi. Kami masih tinggal di kontrakan dua petak yang arah ke kamar mandi tidak ada pintunya. Satu siang dia susah sekali untuk dibobok-in, sementara mata saya sangat ngantuk. Akhirnya saya ketiduran. Mungkin adalah 10 menit, ketika tiba-tiba dikagetkan oleh tetes-tetes air di wajah saya. Masya Allah, Nurul sedang tertawa-tawa riang memainkan kosekan WC di atas wajah saya. Pas saya lihat ke kamar mandi, air di WC sudah habis, bekas buat mainan dia. Seketika saya lemas, beruntung dia tidak masuk bak mandi, padahal sehari sebelumnya dia tenggelam di bak, karena mainan air saat saya sedang mencuci pakaian. Kepalanya masuk duluan dan tidak bisa bangun. Allah masih selamatkan karena saya langsung melihat kejadian.

Etapi, anak kami, ketika sudah mulai bisa mengenali orang, dia lebih dekat ke ayahnya. Semua maunya sama ayah. Ayahnya  bisa mengurus  dan mengikuti kemauannya. Kemana ayahnya pergi, maunya kudu ikut.

2. Menjemur Pakaian
Pekerjaan ini sering bikin jengkel kalau dikerjakan suami (udah syukur dibantuin yak). Setiap kali meminta suami membantu jemur cucian, saya akan mengecek ulang begitu saya sempat. Karena kalau tidak saya cek, pakaian yang seharusnya kering dalam sehari, bisa baru kering dua atau tiga hari ke depan. Banyak tumpukan tidak jelas. Pernah ngalamin belum Mak?  Cobain deh.

Etapi, suami saya sangat bagus dalam urusan mencuci pakaian. Asal ada musik bersamanya.

3. Melipat Dan Menata Pakaian
Masih sepaket sama menjemur ya. Setiap kali meminta suami melipas pakaian, karena saya belum sempat, selalu saja salah karena harus menyesuaikan kapasitas di lemari.

Tetapi suami bagus jika dipinta merapikan rumah. Menyapu, mengepel, merapikan pernak-pernik rumah yang berantakan.

4. Merapikan Perabot Dapur
"Malah Kalaunambah berantakan."  Begitu kata beberapa yang pernah merasakannya. Yang ini semua dari menyimak beberapa teman saja. Karena tidak berlaku pada suamiku. Suami terbiasa dengan warung makannya, jadi ianya rapi dalam menata perabot dapur.

5. Memilihkan Pakaian Anak
Nah ini sering terjadi, ketika selesai mandi, anak harus didandani. Suami saya type orang yang sangat peduli dengan kerapihan penampilan, sehingga dia sangat tidak suka jika anak dipakein baju jelek. Dan dia sering melakukannya sendiri untuk mendandanin anak-anak. Saya sangat terbantu dong tentunya. Sayangnya doi sering salah ambil kostum. Hawa lagi panas-panasnya, anak diberikan pakaian tebal dan lengan panjang. Alhasil, saya harus mengulang mendandaninya.

Tentu tidak semu suami begitu ya, ini hanya pengamatan saya. Mungkin para emak punya cerita beda?

Surabaya, Senin, 08 Juli 2019 (09:27)

Punya suami yang ringan tangan suka membantu urusan rumah tangga tentu sangat menyenangkan. Bisa diajak berbagi tugas dalam merapikan ru...