01 January 2019

Tahun Baru di Tiga Kota Indonesia



Selamat datang 2019!

Tahun baru lalu saya masih tinggal di kontrakan di Cikarang. Gak pernah menyangka jika akhirnya di tahun ini saya berada di Surabaya. Meengikuti suami yang akhirnya mengajak menetap di sini. Entah untuk sementara atau seterusnya.


Seperti yang saya lakukan di tahun-tahun baru sebelumnya ketika masih di Jakarta dan Cikarang, setiap malam tahun baru saya selalu mengajak suami untuk keliling kota. Tentu saja bukan untuk ikut memeriahkan ramainya tahun baru. Apalagi niup terompet dan nyalain kembang api. Bukaaan… tetapi, karena saya penasaran seperti apa kota yang saya tempati saat ini ketika tahun baru tiba.

Kali ini saya menemukan perbedaan yang tidak seberapa mencolok. Khususnya di lalu lalang kendaraan di jalan raya.

Karena Surabaya kami mepet Gresik, jadi semalam saya tidak keliling Surabaya, tetapi ikut di titik kota Gresik. Dan menemukan keramaian itu ada di GOR (Gelanggang Olah Raga) Gelora Joko Samudro. Kami hanya lewat, kemudian melanjutkan perjalanan mencari titik keramaian di tempat lain, dan menemukan di taman-taman yang ramai oleh pedagang makanan, sewa mainan anak-anak, dan orang-orang nongkrong. Kami tidak berhenti di titik ini juga.



Melanjutkan perjalanan, dan mendapati hampir semua rumah makan dan restoran dipadati pengunjung. Keren bener minat kulinernya ya warga Surabaya dan Gresik ini. Kami mencari sesuatu yang belum pernah saya makan selam di sini. Yaitu nasi goreng Jawa. Beberapa tempat favorit yang kami datangi tutup. Sayang sekali, harusnya mereka peroleh banyak pembeli seperti tempat makan lainnya. Karena semua yang kami lewati benar-benar ramai pengunjung, termasuk mie ayam dan bakso.

Akhirnya setelah keliling-keliling agak lama, kami menemukan satu penjual yang masakannya lumayan enak. Sayangnya saya tidak sempat memotretnya. Hehe…

Jalananan juga biasa, tidak padat namun juga tidak sepi, kecuali jalan raya yang baru keluar pintu toll Romokalisari Surabaya. Jalanan ini biasanya sangat ramai dan sulit sekali untuk menyebrang. Tetapi semalam sepi.

Ah iya, saya sama sekali tidak mendengar tiupan terompet mau pun petasan semalam. Padahal saya belum tidur sampai jam satu malam. Waktu di Jakarta, jangan tanya deh, suara gemuruh petasan penyambutan tahun baru sangat memekakakkan telinga. Begitu juga ketika masih tinggal di Cikarang.

Suasana Pagi
Jika di Jakarta dan Cikarang pagi pasti sepi, rumah makan dan restoran banyak yang tutup di Surabaya jalanan masih sama, ramai. Meskipun tidak seramai biasanya. Saya masih berani menuntun Nurul (25 bulan) saat menyeberang. Kalau di pusat perbelanjaan saya belum mengecek.

Sore, Surabaya di lingkungan saya mulai ramai seperti biasa. Pintu-pintu sudah mulai terbuka. Begitu juga warung. Anak-anak sudah mulai berkeliaran di halaman. Sepertinya yang berlibur dari beberapa hari sebelumnya sudah pada kembali.

Tentu saja, ketiga kota yang telah saya ceritakan di atas jauh berbeda dengan di Lampung, tempat di mana saya lahir  dan tumbuh. Di Lampung daerah saya sama sekali belum pernah ada tiupan terompet apalagi nyala kembang api yang begitu besar. Jadi apa yang dinikmati orang-orang di kota besar saat tahun baru, bagi warga sekitar tempat saya sana adalah hal yang tidak dikenal. Kecuali bakar-bakar, yang kini mulai dikenal oleh pemudanya.

Begitulah cerita dari tiga kota tempat yang pernah saya tinggali di Indonesia ketika tahun baru tiba. Setiap kota pasti berbeda ya Mak. Bagaimana dengan kotamu? Yuk berbagi cerita…

15 comments:

  1. Di Sidoarjo gimana ya ... hehe. Soalnya saya jarang keluar pas tahun baru. Biasanya stay di rumah saja sambil ngemil dan nonton TV bersama keluarga. Nah, malamnya melihat langit seluas mata memandang terlihat kembang api memenuhi langit, bagus sich tapi suaranya ... saya yang nggak suka, hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rame berati ya Bunda. Surabaya bisa jadi juga rame, tapi mungkin karena kami di tepi Gresik, jadi gak tau keramaiannya Surabaya

      Delete
  2. Lebih enak kalau pas tahun baruan restauran buka ya mba, pasti banyak yang beli. Tapi karyawan resto juga pengen libur ngerayain tahun baruan hehehe

    ReplyDelete
  3. Selamat datang di Surabaya, semoga betah ya mba..
    Saya tahun baru, bobo cantik ngelonin bocils di rumah mba. hehe

    ReplyDelete
  4. Aku juga sama mbak kalau tahun baru suka lihat suasana kota di saat malam pergantian tahun dan semangat orang-orang yang menunggu peegantian tahun.

    ReplyDelete
  5. wew, asik beud bisa tahun baru di tiga kota, aku mah cuma satu doang kak hahaha. Hope this year will be much fun and lover

    ReplyDelete
  6. Tahun baru biasanya cuma di rumah saja nonton TV. Kecuali Ada yang ajak keluar rumah ��

    ReplyDelete
  7. Mostly sy habiskan malam tahun baru di Jakarta
    Ya gitu yaa keseruannya meski sy lbh banyak menghabkskanya di rumah.
    Tp yg paling berkesan sih sy pernah menyaksikan keseruan tahun baru di Sydney thn 2007 trus tahun awal 2018 malah tabun baru di Makkah dan ga serasa tahun baru tp serasa musim haji krn jamaah umroh yg mmwbludak waktu itu

    ReplyDelete
  8. Jaman anak2 masih kecil, aku sama suami suka ngajak muter keliling kota. Tapi sejak terjebak macet di tengah keramaian menyambut tahun baru, kami jadi males keluar rumah. Mending di rumah aja, bakar jagung, seafood, sambil nonton TV

    ReplyDelete
  9. Aku pernah looh...pas awal menikah lalu pindah ke Bandung (aku dan suami dari Surabaya) - lalu merasakan kebebasan keluar sampai pagi bersama pasangan halal.

    Dari dulu kepingiiin banget lihat kehidupan kota besar di malam hari. Tapi tentu saja terhalang restu Ibu-Bapak, mengingat aku adalah anak perempuan satu-satunya.

    Tapi sekarang aku tahu bahwa itu adalah bagian dari menjaga kehormatan seorang wanita.

    Tabarakallahu.

    ReplyDelete
  10. Kalau di sini setelah tahun baru, pasar tradisional pun sepi. Banyak lapak yang masih tutup smapai beberapa hari. Kayaknya pada tahun baruan

    ReplyDelete
  11. Wah jadi warga Surabaya sekarang ya Mbak? Semoga betah dan tidak kaget dengan lingkungan baru.

    ReplyDelete
  12. Tahun baruan, hmmm, seperti biasa, enggak terlalu tertarik dengan keriuhan hehe. Lbh suka di dalam rumah. Makin usia segini rasanya udah gak kuat sama udara malam.
    Tahun baru kmrn kalau aku perhatikan emang gak seramai2 yg lampau2 ya mbak, di Sby khususnya, mungkin krn ada bbp himbauan supaya gk bikin rame2 jg kali ya :D

    ReplyDelete
  13. Aku kalo tahun baru pasti tidur mbak. Hahahaha. Soalnya pas di kampungku ada tirakatan klo tgl 30 nya jadi setelah pada kecapekan. Mlm tahun barunya pada bablas tidur semua

    ReplyDelete
  14. Aku di jogja, rumahku di pinggir jalan besar. Jadi otomatis tiap tahun baru rame banget, yaa ikut menikmati aja, wong di dalem rumah juga ga bisa tidur krn terlalu berisik, mending keluar sekalian :))

    ReplyDelete