30 April 2017

Saat Menjadi Kartini

Ilustrasi phitonya anak pada acara Kartini


Kesempatan tampil sebagai Kartini, saya jalani pertama kali ketika saya masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Itu merupakan pengalaman pertama dan sampai sekarang belum pernah melakukannya lagi.

Satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupa, setiap kali membicarakan Kartini, Hari Kartini, dan apapun mengenai Kartini, adalah tetangga saya. Saya memanggilnya dengan sebutan Mbok Nah, dan anaknya Mbak Ning.

28 April 2017

Berburu Diskon Giant Akhir Bulan

Minuman persiapan Ramadhan

Beda masa muda, beda masa emak-emak. Jika sebelum menikah dan belum punya anak dulu, setiap usai gajian yang diburu adalah apa yang paling dibutuhkan saat itu. Misal, tas, handphone, kosmetik (kalo pakaian saya tidak seberapa tertarik) dan terkadang seminar atau pertemuan-pertemuan kecil dengan teman-teman.

Sekarang sudah menjadi emak-emak (berasa tua deh :D). Belanja tidak lagi ke mall (paling sekali dua jika memang butuh beli pakaian si kecil atau saya dan suami sudah benar-benar membutuhkan), tetapi cukup di Giant. Apalagi coba kalo bukan belanja urusan dapur? Hihi...

15 April 2017

Hutang Lunas Secara Ajaib

Hutang. Sesuatu yang melelahkan namun sangat digandrungi oleh semua kalangan. Terutama di kalangan pebisnis karena untuk tambahan modal. Sedangkan untuk kalangan rumah tangga, biasanya ibu-ibu berhutang jika kondisi kepepet untuk kebutuhan sehari-hari. Yang berusaha didapat dari kerabat, teman, dan tetangga. Biasanya pun dalam jumlah yang relatif kecil. Beda dengan pebisnis yang meminjamnya untuk mengembangkan usahanya. Pinjamnya tidak tanggung-tanggung lagi. Bisa mencapai ratusan juta hingga milyar bahkan. Pinjamnya pun bukan lagi ke tetangga, atau teman. Tetapi langsung ke bank.



13 April 2017

Seremnya Menyaksikan Ruqyah


Suasana ruqyah massal di acara Ta'aruf bersama Ustadz Arif
Pernah ruqyah? Atau menyaksikan orang diruqyah? Kalau belum, saya akan menceritakan sedikit tentang ruqyah dari apa yang saya saksikan pada tanggal 2 April 2017 lalu. Saat saya menghadiri acara pertemuan Majelis Ta'aruf, yang salah satu acaranya adalah ruqyah massal. Saya menyaksikan bagaimana awalnya peserta duduk anteng menyimak apa yang dibaca oleh Ustadz dan tidak lama kemudian beberapa peserta ambruk, tubuhnya kaku, bergetar. Ada yang mencengkram, teriak-teriak, dan menangis kesakitan.

12 April 2017

Karena Dia Adalah Hadiah Terindah


Nurul selfie dengan Ayah
Menjadi seorang ibu adalah impian setiap wanita. Wanita yang telah menikah, namun lama belum juga dikaruniai anak, akan melakukan banyak hal demi memperoleh anak yang akan disayanginya serta dapat memberinya kebahagiaan. Begitu juga dengan saya. Hadirnya buah hati setelah bertahun menikah adalah sebuah mukjizat yang luar biasa. Karena itu, kasih dan sayang tercurah penuh kepada si buah hati. Nurul Ikhlas Masitha, kepada anak yang baru mulai belajar duduk inilah segala hal akan saya upayakan demi membahagiakannya. Karena dia juga yang telah membuat saya bahagia hingga saat ini. Dia yang pertama kali mengajari saya bagaimana menjadi seorang ibu, setelah bertahun tahun saya berharap.  Dia yang membuat hari-hari saya ceria penuh tawa oleh ocehannya di sepanjang bangunnya. Kehadirannya bagaikan hujan deras di panjangnya musim kemarau bagi petani.