Pages

12 July 2017

Filosofi Kembang Turi Putih

Kembang turi layu


Dua hari lalu, saat sedang duduk-duduk di bawah salah satu pohon turi yang berderet di pinggir jalanan Taman Botanic, saya teringat lagu dari Jawa yang beberapa bulan terakhir sering distell dan didengarkan oleh suami. Saya sih dengernya sambil lalu saja. Konon katanya, lagu tersebut adalah ciptaannya salah seorang sunan yang berdakwah di zaman itu. Berjudul "Turi Turi Putih".


Di kampung saya, yang saya ketahui, kembang turi memiliki tiga warna. Pink, putih, dan merah. Kembang turi ini bisa dijadikan sayuran. Untuk ditumis, dikasih santan, dibumbu sambel, dipecel dan direbus lalu dicocol dengan sambal. Rasanya maknyus. Biarpun ada sedikit pahit-pahitnya, kembang turi tetap nikmat dijadikan santapan bersama nasi. Waktu saya hamil Nurul kemarin, saya pun ngidam tumis kembang turi. Beruntung pas saya mudik Lampung, Mamak berhasil mendapatkan kembang turi dari tetangga.



"Kenapa harus turi putih, Mas?" Tanya saya kepada suami yang saat itu sedang menitah si cantik Nurul di lahan Taman Botanic.
"Coba perhatikan ini." Katanya seraya menunjuk bunga turi putih yang telah layu di rerumputan.
"Seperti mayat." Sahut saya setelah memperhatikan bunga layu yang bertebaran di bawah pohonnya itu. Ya, turi putih yang telah layu itu memang persis sekali dengan mayat yang udah dibungkus.

Ketika saya mendongak ke atas, banyak bunga turi yang masih kuncup. Plus banyak juga yang telah menjadi buah panjang-panjang seperti kacang. Dan beberapa yang masih segar merekah.

"Yupz!" Sahut suami. Kepadanyalah saya banyak bertanya mengenai filosofi kembang turi putih. Dan juga dari kakaknya yang menurut suami juga suka mendengarkan lagu Turi Putih.

Adapun lagu yang saya maksud adalah:

Turi turi putih
Ditandur neng kebon agung
Ono cleret tibo nyemplung
Mbok iro kembange opo
Mbok iro kembange opo

Tandurane tanduran kembang
Kembang kenongo ing njero guo
Tumpakane kereto Jowo
Rodo papat rupo menungso
Rodo papat rupa menungso

Lagu tersebut memberikan gambaran tentang kematian.

Terjemahan bebasnya, turi putih diibarat sosok mayat yang telah dikafani, yang kemudian dikuburkan di sebuah kebun. Ono cleret tibo nyemplung. Diibarat sebuah gerak yang teramat cepat. Gambaran kehidupan manusia yang sebenarnya begitu singkat. Yang kemudian nyemplung (dicemplungkan) ke dalam goa (kuburan).

Setelah itu ditanya "Mbok Iro kembange opo?" Amalan apa yang dibawa. Baik atau buruk.

Itulah sedikit mengenai filosofi turi putih yang saya dapat darinobrolan dengan suami dan kakaknya. Silakan diluruskan jika salah.

Tabik
Ida Raihan
Cikarang, Kamis, 13 Juli 2017 (13:23)

8 comments:

  1. Belum pernah merasakan masakan kembang turi
    ternyata kembang turi ada nasehat tentang kematian ya
    makasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cobain deh Mbak. Enaaak mantap. Apalagi ditumis yang pedes. Ah jadi kepengen saya.

      Iyupz!

      Delete
  2. Makna filosofinya dalam ya.
    Aku suka banget kembang turi kalau buat urap maupuan dipecelb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samaaa... Diapain aja kembang turi tetep enak.

      Delete
  3. hooo... gitu ya... baru tau :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Dibalik sayuran yang enak itu, pesannya sangat dalam ternyata.

      Delete
  4. Wah baru tahu aku artinya setelah baca tulisan Mba ini. Ternyata Allah memberi pelajaran tentang kematian tuh dari banyak hal ya Mba.

    Tapi aku blm pernah nyicip kembang turi, penasaran gimana rasanya

    ReplyDelete
  5. Iya Mbak.

    Cobain deh, pasti ketagihan :D

    ReplyDelete