Pages

15 April 2017

Hutang Lunas Secara Ajaib

Hutang. Sesuatu yang melelahkan namun sangat digandrungi oleh semua kalangan. Terutama di kalangan pebisnis karena untuk tambahan modal. Sedangkan untuk kalangan rumah tangga, biasanya ibu-ibu berhutang jika kondisi kepepet untuk kebutuhan sehari-hari. Yang berusaha didapat dari kerabat, teman, dan tetangga. Biasanya pun dalam jumlah yang relatif kecil. Beda dengan pebisnis yang meminjamnya untuk mengembangkan usahanya. Pinjamnya tidak tanggung-tanggung lagi. Bisa mencapai ratusan juta hingga milyar bahkan. Pinjamnya pun bukan lagi ke tetangga, atau teman. Tetapi langsung ke bank.




Pinjaman besar resiko besar, pinjaman kecil resiko kecil. Mungkin begitu yang terjadi dalam dunia pinjam meminjam uang. Yang dipinjam di teman/kerabat/tetangga, toleransi penangguhan lebih banyak. Bisa sampai berbulan-bulan, hingga ke tahun dengan nyaris tanpa masalah. Tidak ada bunga, tidak ada sita-menyita. Bahkan ada yang tidak dibayar. Atau menunda membayar meskipun terkadang diwarnai dengan pertengkaran (yang terakhir resiko kehilangan teman). Sedangkan bila pinjam di bank, maka tidak akan ada penangguhan. Jika waktunya membayar maka wajib membayar jika tidak ingin hutang terus berbunga atau kena denda. Menggunakan agunan yang dipertaruhkan. Dan wajib membayar bunga sekian persen (tergantung kebijakan bank), yang jika tidak dicicil akan semakin memberatkan peminjam. Karena itulah Islam melarang hutang yang memberati ummatnya dengan bunga. Yang di dalam Islam disebut dengan riba. Islam mengharamkan segala sesuatu yang berbau riba.

Ilustrasi dokumen pribadi


Di bawah ini adalah kisah salah seorang sahabat peserta kelas online yang terlibat riba yang mencekik. Usahanya bangkrut ketika hutangnya mencapai angka Rp. 1.000.000.000 (SATU MILYAR)! Ia dan keluarganya jatuh hingga ke titik NOL. Sehingga untuk makan sehari-hari pun tidak selalu mereka dapatkan. Sampai pernah salah satu keluarganya, hingga dua hari tidak bertemu nasi. Hanya makan tepung goreng.

Lalu, bagaimana mereka bisa melunasi hutang bank yang sebesar itu? Silakan dibaca pelan-pelan kisahnya. Semoga menginspirasi.

Pengusaha Sukses
Tahun 2009, hidup kami bisa dibilang mapan. Suamiku adalah pengusaha supliyer makanan ternak (gaplek) konsentrat yang bisa dibilang sukses ketika itu. Diusia suami yang baru 30 tahun, saya 23 tahun, kami punya pabrik sendiri, mobil truk, mobil bak sebagai inventaris perusahaan. Kami sudah punya rumah, mobil pribadi, dan motor. Rasanya, kehidupan yang nyaman menjadi milik kami ketika itu. Kami menikmati masa-masa itu.

Tetapi hal yang tidak pernah terlintas di benak saya terjadi begitu saja. Merenggut semuanya dari saya. Mungkin kami lupa, bahwa semua itu hanyalah titipin dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dia bisa mengambil kapan pun Dia mau. Dan, itulah yang terjadi. Akhir tahun 2012 , menjadi awal kebangkrutan kami. Padahal waktu itu, kami masih punya tanggungan hutang bank sebesar SATU MILYAR!

Rumah Nana sebelum jatuh


Bermula dari tertangkapnya Fajar (maaf, disamarkan), dan Presiden sebuah partai di Indonesia, terkait impor daging sapi, dan kasus pencucian uang. Langkah pemerintah mengambil keputusan menyetop sapi-sapi dari luar negri saat itu langsung berimbas pada usaha kami. Karena sapi luar tidak ada lagi (adanya sapi lokal, sementara sapi lokal tidak makan sentrat. Makannya rumput), bahan baku di pabrik pada busuk. Yang akhirnya dijual  rugi. Dan banyak yang terbuang. Perputaran usaha pun terhenti. Tabungan mulai terkuras untuk membayar hutang yang dalam satu bulan hampir mencapai 10 juta. Tidak ada pilihan, akhirnya pabrik kami lepas.  Begitu juga truck, mobil bak, semua yang menyangkut investasi  pabrik di lepas untuk membayar hutang. Tabungan di rekening habis, namun belum juga mencukupi untuk melunasi hutang. Pilihan terakhir, rumah dan mobil pun terpaksa dilepas. Sampai-sampai motor juga ikut dijual. Dan itu pun masih tetap belum bisa melunasi semua.

Kami pindah ke kontrakan petak. Menggunakan motor bebek tua yang suaranya, aduhai, prepek prepek, dan suka mogok! Lengkap sudah penderitaan kami ketika itu. Yang ternyata masih panjang harus kami lalui.

Nana bersama buah hatinya


Yang paling menyakitkan adalah, ketika saya harus menyaksikan anak kami yang baru berusia satu tahun ikut mengalami kebangkrutan ini. Minumannya yang sebelumnya adalah susu termahal, harus direlakan turun ke yang sedang. Lalu turun lagi hingga ke yang termurah, dan sampai akhirnya berhenti sama sekali sebelum usianya 2 tahun. Duhai Robbi, remuk rasanya hati ini. Dan ternyata, itu belum seberapa. Hati ini lebih tercabik, ketika harus menyaksikan anak yang belum dua tahun itu tidur dalam keadaan kelaparan. Menangis meminta makan sampai akhirnya ketiduran.

Waktu itu kami tidak punya uang sepeserpun. Mencari pinjaman telah berusaha saya lakukan. Tetapi tak satupun teman dan keluarga bisa memberi pinjaman meskipun hanya Rp. 10.000.

Pada saat seperti itu, tiba-tiba, saya teringat Allah. Cuma Allah yang saya punya. Saudara, temen, dan lain-lain tidak ada yang bisa membantu. Maka kepada Allah lah aku harus meminta. Dia lah satu-satunya yang bisa mengabulkan permintaanku (walau bagaimana saya pernah sekolah di sekolah Islam, sehingga sedikit banyak saya faham tentang agama. Hanya saja selama itu saya telah abai terhadap kewajiban sebagai hamba). Dengan keyakinan penuh, saya menangis kepada-Nya. Semakin tergugu ketika mengingati, masih ada tanggungan hutang bank yang harus kami lunasi. Hutang yang menggunakan rumah orangtua sebagai agunan. Jika saya tidak segera melunasi, maka rumah orangtua bakal disita. Jika sampai di sita, mau tinggal di mana mereka?

Dikejar Debkolektor
Dengan kondisi yang terpuruk itu, suami berusaha mencari kerja. Beberapa lamaran dikirimnya ke beberapa perusahaan. Namun belum satu pun panggilan datang. Demi mempertahankan kelangsungan hidup, akhirnya saya bekerja part time di salah satu tempat kursus matematika. Itulah yang menjadi satu-satunya sumber penghasilan kami. Walaupun gajinya tidak besar, Rp. 600 - 700 ribu perbulan (karena kerjanya seminggu cuma masuk 2x). Lumayanlah bisa buat bayar kontrakan. Sisanya Rp. 200.000 (dua ratus ribu) bisa buat makan semingguan. Walaupun makan sama telor 1 butir dibagi tiga. Irit, tetapi anak saya bisa makan 3x dalam sehari.

Sayangnya, saya tidak bisa bertahan lama kerja di sana. Depkolektor yang mungkin datang ke rumah mencari-cari suami untuk menagih hutang tidak ketemu, bertanya-tanya ke tetangga, dikasih taulah tempat kerja saya yang memang tidak jauh dari rumah. Akhirnya depkolektor itu datang ke tempat kerja saya. Sampai rekan-rekan kerja seperti terganggu dengan telepon dan kedatangan mereka. Akhirnya Ibu bos memanggil saya. Dan memaksa saya segera membereskan masalah ini. Saya sadar diri. Saya harus keluar  dari kerjaan itu.

Setelah  itu tidak ada penghasilan sama sekali. Suami berusaha keluar rumah dengan berjalan kaki berharap pulang membawa uang. Sayangnya, sepeser pun ia tidak mendapatkan uang.  Saya cuma bisa menangis. Menangis kelaparan.

Karena menganggur, saya memilih pergi ke warung ibu setiap hari (kebetulan ibu saya buka warung nasi). Bantu-bantu nyuci piring. Lumayan, saya dan anak saya bisa makan di sana, dan malam, pulang dari warung saya bisa membungkus buat suami. Saat itu suami bisa makan cuma malam hari sepulang saya bantu-bantu ibu jualan. Pernah juga ia sampe dua hari tidak ketemu nasi. Kadang cuma makan terigu di goreng. Yah lumayan, masih ada rizki untuk ganjal perut.

Tanggal 15 September 2015, suami ditelepon ibu. Ada segerombolan orang dari salah satu Bank Pemerintah yang datang. Tanpa berfikir panjang, suami langsung berangkat ke tempat ibu. Padahal cuma punya uang Rp. 1000 yang hanya cukup untuk membeli 2 gelas air mineral. Sedangkan  perjalanan ke tempat ibu membutuhkan waktu 30 menit naik angkot. Karena tidak ada uang, suami tempuh dengan berjalan kaki, selama 2 jam. Begitu sampai di tempat ibu, pihak bank memberitahukan bahwa hutang harus dilunasi. Tidak bisa dicicil lagi. Yaa Allah, uang dari mana? Untuk makan saja tidak ada,. ini harus melunasi sisa hutang bank sebesar Rp. 83.000.000 (delapan puluh tiga juta Rupiah). Sesaaak rasanya.

Toleransi yang diberikan pihak bank hanya 2 minggu.  Bayangkan, dalam kondisi terpuruk, dan benar-benar di titik nol, kami harus ada uang sebesar Rp. 83.000.000. Siapa yang tidak stress? Siapa yang tidak gila? Saya hanya bisa menangis siang malam kepada Allah. Meminta, dan meminta. Siapa coba yang bisa menolong dengan uang sebanyak itu, kalau bukan Allah? Saya yakin, Allah akan membantu saya.

Dan usaha saya tidak sia-sia. Maha benar Allah yang berfirman, "berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu." Allah memberi petunjuk. Ada broadcase soal tahajjud berantai di WhatsApp. Tanpa pikir panjang saya mendaftar (sebenernya sebelum ikut grup ini, aku sudah suka tahajjud tapi tidak rutin).

Tanggal 29 September belum ada bayangan, padahal dateline dari fihak bank tanggal 30 September. Sehari itu saya terus di atas sajadah memohon pertolongan-Nya. Begitu juga malamnya. Uang pegangan yang dikasih ibu kusedekahkan semuanya.

Tanggal 30 September tiba. Hingga jam 11:00 masih belum ada uang. Terasa buntu semua jalan. Sedangkan itu adalah hari penentuan. Jika uang 83 juta tidak disetorkan, maka orangtua saya harus siap keluar dari rumah mereka. Sedih dan bingung membuat saya tetap di atas sajadah, memohon pertolongan-Nya.

Pada saat itulah, tiba-tiba Tanteku datang. Ibu menceritakan apa yang terjadi, dan memberanikan diri pinjem uang kepadanya. Alhamdulillah, Tante memberi pinjaman 20 juta, walaupun hanya diberi waktu seminggu untuk mengembalikan. Masalah belum selesai, karena masih kurang 63 juta lagi. Jam menunjukkan angka 13:00. Belum ada bayangan mau mencari kemana.

Pukul 14:00 tiba. Cemas mulai menghantui. Hingga akhirnya saya pasrah. Menyerahkan segala kemungkinannya kepada Allah. Apapun yang terjadi, pasti yang terbaik dari Allah. Pada saat di titik kulminasi itulah, tiba-tiba keajaiban terjadi. Detik-detik indah pertolongan Allah hadir. Temennya suami yang dulu pernah beli mobil kami, terus menghilang entah kemana, sebelum mobil dilunasi, tiba-tiba transfer. Kekurangan bayar mobil dia lunasi semuanya. Allahu Akbar! Maha benar Allah dengan segala janji-Nya, "ketika gelap semakin pekat, itu tandanya cahaya pagi akan segera muncul".

Dengan tergesa-gesa saya lari ke bank untuk mengejar waktu. Pukul 14:30, bank hampir tutup. Dan saya berhasil melunasi hutang kami! Hutang yang awalnya berjumlah SATU MILYAR akhirnya lunas. Sujud syukur.

Sejak saat itu kami putuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan riba! Saya kapok, benar-benar kapok!

Masalah Hutang Kedua
Ya, tentu saja. Setelah urusan dengan Bank selesai, urusan selanjutnya adalah dengan Tante saya. Kami harus bayar hutang ke Tante yang 20 juta dalam satu minggu.

Beruntung, ternyata diluar sepengetahuan saya, mobil bak suami belum dijual. Selama ini cuma di gadai. Suami memasrahkan (minta tolong temennya agar menjualkan mobil bak tersebut. Saya agak tenang. Masih bisa bernafas walau dalam lumpur. Sesak.

Sayangnya, teman suami bukanlah orang yang amanah. Setelah mobil terjual ternyata uangnya justru dibawa kabur. Lemas tubuh mengetahui hal itu. Lagi-lagi, saya menangis kepada Allah. Uang 20 juta itu mau dipakai untuk membayar kontrakan kiosnya tante. Kalau tidak dibayar, maka tante tidak bisa jualan lagi.

Bersyukur waktu itu aku punya komunitas AIH (Aku Ingin Hamil) di Facebook. Dan dari situ, terbentuklah group SISTER di WhatsApp. Biasalah waktu itu saya masih galau.  Masih suka bikin status galau di FB. Dateline bayar hutang sudah datang, tinggal melewati satu malam saja, tapi masih belum tahu bisa dapat uang dari mana. Esok, 06 Oktober 2015, uang Tante sudah harus dikembalikan. Pada saat itulah, lagi-lagi pertolongan Allah datang.

Jam 10 malam tiba-tiba beberapa temen dari group SISTER inbox dan WhatsApp. Mempertanyakan status-status galau yang saya tulis di Facebook. Akhirnya saya ceritakan masalah saya. Tidak menyangka sama sekali, respon teman-teman sangat baik. Padahal hanya kenal di facebook dan beberapa kali ketemuan. Tiga orang memberi pinjaman masing-masing 5 juta. Sebagiannya lagi memberi sumbangan. Subhanallah, walhamdulillah. Jika tidak ada campur tangan Allah rasanya tidak mungkin sesuatu yang mustahil ini terjadi. Temen-teman FB percaya/berani kasih pinjaman sebesar itu. Akhirnya  hutang ke tante pun lunas. Alhamdulillah, sujud syukur.

Selesaikah ujian saya? Ternyata belum. Anak saya sakit demam berdarah. Dan harus dirawat. Walaupun anak saya punya BPJS, tetapi sudah 2 tahun bulanan tidak dibayar. Butuh dana Rp. 1.600.000 untuk melunasi tunggakan, jika ingin BPJS bisa dipakai kembali. Sedangkan saat itu kami baru beres-beres hutang. Tidak ada lagi uang tersisa di dompet.


Nana dengan komunitas SISTER

Lagi-lagi, kepada Allah lah saya datang. Memohon sambil menangis. Untuk kesekian kalinya, pertolongan  Allah datang. Sekali lagi, melalui komunitas SISTER. Mereka patungan untuk membantu saya melunasi tunggakan BPJS anak saya. Subhanallah, semoga Allah mencurahkan karunia-Nya kepada mereka semua.

Alhamdulillah. walaupun  semua ang saya miliki diambil kembali. Tetapi Allah menggantinya dengan dipertemukannya saya dengan komunitas SISTER. Ini merupakan rejeki yang sangat luar biasa.

Tidak lama setelah itu, suami ada panggilan inteview. Saat sedang menunggu wawancara, tiba-tiba temen kerjanya (yang dulu bawahan suami), muncul di depannya. Terkejut tentu saja. Dan ternyata, dia adalah manager di perusahaan  itu. Akhirnya tanpa wawancara suami langsung diterima kerja. Selang 2 bulan suami diangkat menjadi supervisor. Ahamdulillah.

Itulah sepenggal kisah kebangkitan kami dari keterpurukan karena riba. Semoga bisa diambil pelajarannya. Semua yang kami alami tidak lepas dari skenario dan kasih sayang Allah. Mungkin jika tidak begitu saya bukan Nana yang sekarang.

Dulu saya bener-benar jauh dari Allah. Dan Allah memberi teguran kepada saya. Bersyukur teguran-Nya datang ketika saya masih di dunia. Coba kalau sudah di akhirat apa saya masih bisa bertaubat memperbaiki diri?

Dengan begini saya bisa merasakan, bahwa pertolongan  Allah itu nyata. Mukjizat Allah itu ada. Asal kita yakin, pasrah, semua urusan pasti beres. Insya Allah.

*Seperti yang diceritakan oleh Nana Sulistiana

Ida Raihan
Cikarang, Jum'at, 14 April 2017 (22:51)

4 comments:

  1. Terharu bacanya mba... Reminder utk aku juga utk slalu lbh deket ke Allah ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Allah akan menolong jika kita tidak meninggalkan-Nya.

      Delete
  2. Itu komunitas emak emak nya keeceeee bingooo ��. Mau doong gabung hihi hie (biar ketularan kecenya)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang mana Mbak? Ada tiga komunitas yang disebut di sini.

      Delete