5 Cara Hadapi Nyinyir Netizen



Hari ini, di media, baik media social maupun televisi ramai pemberitaan seorang anak yang ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, di sebuah danau daerah Marakas, Bekasi Utara. Banyak yang berempati dengan kasus tersebut. Namun juga tidak sedikit netizen yang justru menyalahkan dan mengolok. Baik yang langsung membuat status sendiri, maupun yang masuk ke kotak komen ibunya korban. Padahal sekelas Bunda Elly Risman saja, mengirimkan pesan singkat, berbelasungkawa, serta hendak datang menjenguk dan mengakui betapa hebatnya ibu dari anak yang tenggelam di danau itu. Yang selama tujuh tahun belakang, telah dengan sabar dan telaten mengurus putranya itu. Kejadian ini adalah musibah yang memang Allah kehendaki untuk menguji keluarga hebat itu.

Sebagai salah satu orang yang mengetahui kasus hilangnya Ghaza sejak awal, rasanya marah sekali melihat banyaknya komentar nyinyir dari netizen. Khususnya yang ada di postingannya Ummu Ghaza. Namun, kami yang berada di satu group, terus saling menguatkan, untuk menahan diri. Tahan emosi. Fokus pada Ummu Ghaza yang tampak tetap kuat menghadapi ujian ini.

Dari situlah saya semakin banyak belajar ilmu kepada Ummu Ghaza dan teman-teman.

Flasback: Dua hari yang lalu, tepatnya Jum’at sekitar pukul 09:00, Mama Ghaza mengirimkan sebuah flyer di group WhatsApp kami. Sebuah berita pencarian anaknya yang bernama Ghaza, yang menghilang pada jam tersebut. Serta merta, kami yang berada di group membagikan info tersebut ke media sosial, yang kemudian kembali dibagikan oleh netizen.

Saat itu, Mbak Ica (panggilan teman-teman kepada Ummu Ghaza), sedang ada keperluan di rumahnya, karena beliau juga masih memiliki batita. Abang Ghaza selesai mandi bermain bersama kakaknya di depan rumah (dikelilingi pagar teralis yang dikunci), tetapi kakak tidak menyadari ketika Abang Ghaza keluar pagar yang entah bagaimana caranya bisa keluar. Karena teralis juga masih tertutup.

Selama 2 hari pencarian terus dilakukan. Informasi terus berganti, ada yang melihat Ghaza lari ke arah Marakas, ada yang mengaku hampir menabraknya, ada yang mendengar siaran dari Masjid atas diketemukannya Ghaza, ada yang bilang membaca berita kesrempet motor dibawa ke rumah sakit, ada yang bilang melihat Ghaza di kantor polisi, ada yang melihat Ghaza di tempat satpam dan diberi makan namun lari lagi. Berita terus datang silih berganti. Sayangnya, semua pemberitaan itu, setelah dicek, hasilnya zonk. Ghaza tidak ada di sana. Ghaza terlalu gesit untuk mereka yang belum mengenalnya. Pencarian terus dilakukan. Hingga puncaknya, Ghaza ditemukan terapung di danau Marakas dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Nyinyiers mana mau tahu yang begitu. Tahunya mereka hanya berkomentar sesuai praduga sendiri. Tanpa perlu berfikir dulu, apakah itu tindakan benar atau salah. Melukai atau tidak.

Beruntung kami memiliki komunitas, disatukan dalam komunitas yang adem, sehingga satu sama lain bisa saling menguatkan. Saling menasehati bagaimana memperlakukan nyinyiran netizen.

Dari kasus tersebut, akhirnya saya berhasil merangkumnya dalam tindakan, 5 Tips menghadapi nyinyiran netizen

Pertama
Diamkan.

Ya. Jika menjawab tulisan mereka justru bisa menambah suasana semakin tidak nyaman, mendiamkannya jauh lebih baik rasanya. Tidak perlu terlibat argumen dengan orang yang tidak tahu kita atau kronologi kejadian. Biar waktu yang akan menjelaskan ke mereka.



Kedua
Jauhi Nyinyiers.

Menjauhi Nyinyiers juga bisa dijadikan pilihan agar tidak lagi terlibat urusan dengan mereka. Sibukkan diri dengan perbanyak pertemanan, dan jangan pernah mau berteman lagi dengan mereka. Bila perlu blokir semua akun media sisoalnya biar tidak muncul lagi di beranda atau postingan kita.

Ketiga
Utamakan Adab

Ini yang paling sulit. Tetapi saya belajar hal tersebut hari ini. Ketika salah seorang sahabat dari grup ada yang menjawab satu orang yang nyinyir di sebuah postingan, beliau menjawab dengan santun. Walaupun aslinya beliau ingin sekali menjawab dengan kasar. Tetapi beliau tidak melakukan itu dengan menahan amarahnya.

Keempat
Bergabung Dengan Komunitas Curhat

Mungkin akan lebih pas jika kita memiliki komunitas curhat, WhatsApp group misalnya. Karena tidak dipungkiri, mendapat nyinyiran dari netizen bisa membuat bad mood, emosi. Dengan kita memiliki komunitas curhat, kita bisa meluahkan emosi dengan mengeluarkannya di grup tersebut. Curhat dengan segala kekesalan kita. Keluarkan semua kata-kata yang ingin kita sampaikan kepada nyinyiers.

Kelima
Percaya Diri

Jika memungkinkan, ungkapkan kebenarannya. Namun jika tidak, cukuplah yakinkan diri, balhwa pujian tidak akan menjadi jaminan seseorang naik derajat. Begitu juga sebaliknya. Bukan bullyan dari nyinyiers yang dapat merendahkan seseorang.

Ida Raihan
Ida Raihan

Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga Dengan Dua Orang Anak Yang Suka Menulis Dan Membaca

14 comments:

  1. Nyinyiran netizen2 itu udah risiko kita bermedsos mba. Buat saya lebih baik diamkan saja dulu, apalagi kalo yg mereka nyinyirin gak sesuai sama kita. Aku sih biasanya langsung ku lock, jadi gak muncul lagi dah itu komen si mak lampir. Heheee

    ReplyDelete
  2. Anjing menggonggong kafilah berlalu, gitu kali ya. Tapi susaaah kalo kebetulan kita yang dinyinyirin. Kalo aku lebih suka curhat dg nulis di buku / dimana pun asal jangan medsos. Lagi baper kalo deket2 sosmed bisa bahaya.. hoho

    ReplyDelete
  3. Wiwin | Pratiwanggini.netNovember 25, 2019 at 8:53 PM

    Kalau membaca tulisan yang pada nyinyir tu sebenarnya saya juga gemes. Pengin ngasih komentar balik. Tapi saya tarik ulur, lalu saya putuskan untuk lebih baik diam dan menjauh saja. Lebih baik menata hati sendiri supaya engga ikut menghakimi siapapun.

    ReplyDelete
  4. Aku ngikutin kisahnya Ghaza, sedih. Apalagi Ummu Ghaza bikin thread di FB, My Uniqoue Boy. Kebayang perjuangannya mengasuh Ghaza. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga kita semua bisa mengatasi komen² julid netizen. TFS...

    ReplyDelete
  5. Masha Allah, tidak terbayang bagaimana kehilangannya Ummu Ghaza. Memang dalam memandang satu perkara, tidak selalu ada pikiran positif sekalipun untuk hal yang baik sekalipun. Demikian sebaliknya, akan selalu ada hal baik yang bisa dilihat oleh seseorang sekalipun dalam keadaan buruk. Tinggal bagaimana menyikapi.

    Yuni setuju saja, salah satu menghadapi para nyinyiers itu adalah dengan mendiamkannya.

    ReplyDelete
  6. Suka kzl aku tuh kalau ada warganet yang udah tahu orang teh lagi berduka malah nyinyir. Heran! Dan setuju banget mba, yang paling utama memang harus didiamkan saja. Karena kalau ditanggapi malah seneng tukang nyinyirnya, makin menggila.

    ReplyDelete
  7. Gabung ke komunitas curhat nih menurutku sendiri ada plus minusnya loh.. Balik lagi tergantung pribadinya.. Klo yang gamoang drop bisa jadi tambah puyeng dan drop lagi dengerin kisah org lain.

    Semoga bisa saling support yaaa

    ReplyDelete
  8. benar. mending masuk ke Komunitas curhat saja. kalau nyetatus di FB yg ada malah dikomen sama yg merasa hidupnya paling benar

    ReplyDelete
  9. Nyinyir netizen sekarang jadi kebutuhan bagi influencer yang ingin cepat naik daun. Beda dengan tipe yang cuma mau berbagi (sambil sesekali dapat hasil). Lain lagi bagi yang cuma mau melepaskan rasa di media sosial. DI antara resep/tips di atas, saya punya 1 aturan anti baper: tidak buka medsos saat hati gundah dan atau mudah patah. Jadi saya tidak merasa meski ada yang nyinyir. Hehehe

    ReplyDelete
  10. Setuju banget dg semua tipsnya mbak Ida. Terutama yg utamakan adab. Zaman now mbok ya sesama buibu itu saling support knapa sih,, udah ngalemin yg nmnya melahirkan kan,, jd ya mesti lbh empati. Pray for Ghaza.

    ReplyDelete
  11. Saran nomor 1 jleb banget. Emang kadang diemin Aja ya Mbak. Kalau Kita kepancing ribut Malah mereka senang. Makasih sharenya.

    ReplyDelete
  12. Sumpah baca judul aja saya dah ngakak, tapi baca lebih lanjut baca ternyata sangat bermanfaat.

    ReplyDelete