13 December 2018

Kenangan Masa Kecil, Hidupku Penuh Dengan Bullying



Kalau boleh jujur, sebenarnya saya malas mengenang masa kecil.  Karena masa kecil saya bisa disebut kurang bahagia. Tetapi tantangan Day ke 25 ini memang memaksa saya untuk kembali mengorek masa-masa itu. Mungkin ini bisa sekalian menjadi terapi juga untuk jiwa saya.


Terlahir sebagai anak ke tiga dari delapan bersaudara, saya tidak memiliki kedekatan secara emosional dengan kedua kakak saya. Kebencian yang mereka tunjukkan kepada saya selalu membawa nasib sial untuk diri ini. Bagaimana tidak? Ketika saya sedang bermain dengan teman-teman, kakak saya datang, lalu mengajak teman-teman bermain dengannya dan tidak boleh mengajak saya ikut serta satu permainan dengan mereka. Otomatis, saya langsung kehilangan semua teman dan hanya sendirian.

Pulang ke rumah, di rumah tidak ada orang. Kedua orang tua saya ke ladang. Saya takut sendirian, saya takut kegelapan.

Kakak pertama saya jarang ada di rumah karena dia ikut nenek, tetapi meskipun dia di rumah, kami juga tidak ada keakraban, saya sering peroleh pukulan darinya, dan beberapa kali dijebak oleh fitnahnya, sehingga saya pun peroleh hukuman dari mamak saya. Sebuah hukuman yang bukan kesalahan saya. Entah mengapa, saya tidak bisa melupakannya meskipun telah berusaha.

Di sekolah, saya minder bergaul dengan teman-teman. Kalau pun ada itu hanya sedikit sekali. Apalagi saya juga sering mendapat pukulan secara tiba-tiba dari banyak anak. Termasuk tetangga kidul poros selisih satu rumah dari rumah saya. Eswanti namanya. Begitu juga tetangga kanan rumah selisih satu, di mana pun bertemu selalu melontarkan kata-kata menyakitkan bagi saya. Terkadang juga disertai main tangan untuk menyakiti. Ada juga kenangan pahit masa kecil yang tidak bisa saya tuliskan.

Satu-satunya teman dekat saya adalah Erma Yuli, tetapi kami dipisahkan ketika naik ke kelas tiga. Dia pindah ke Jawa, dan sampai kini entah apa kabarnya. Semoga Allah selalu melindunginya.

Itulah sekelumit kenangan butuk masa kecil saya. Singkat saja donk, soalnya kalau ditulis lengkap pasti gak akan muat halaman ini. Plus waktunya tidak akan cukup sehari, dua hari.

Di antara kenangan pahit masa kecil itu, tentulah ada kenangan manisnya. Dan lebih fair jika saya juga menuliskannya.



Terkadang, di sekolah saya juga bisa merasa aman dari kenakalan Eswanti dan kakaknya, ketika kakak nomor dua saya ada di sekitar. Meskipun jika di rumah saya sering dimusuhi oleh kakak, tetapi saat di sekolahan ia mau membalaskan ketika saya disakiti orang. Seperti suatu pagi, ketika saya sedang berdiri di samping jendela sekolah, tiba-tiba Eswanti dan kakaknya datang, lalu mencubit dan melotot ke saya. Saat itulah kakak kedua saya muncul, lalu balas mencubit Eswanti, dan mengancam dua kakak beradik itu, untuk tidak mengganggu saya lagi. Sejak itu, si adik memang masih sering mengganggu, tetapi si kakak sudah tidak pernah lagi. Apalagi akhirnya dia menunggak di kelas 5 (kalo gak salah), sehingga dia menjadi satu kelas denganku dan menjadi biasa. Tidak lagi nakal.

Di rumah, terkadang kakak pertama juga mau membelaku ketika dia sedang marah sama kakak kedua.

Ahya, setelah adik-adikku lahir, kedua kakakku tidak ada yang mau berbagi tugas mengasuh mereka jika tidak dalam kondisi terpaksa banget. Sehingga mereka (waktu itu baru 3) saya yang mengasuh. Kecuali yang paling besar, karena sudah bisa mandiri dan lama diasuh keluarga Pakde. Jadi ia hanya ikut main saja bersama kami.

Hal menyenangkan lainnya adalah, ketika saya diajak ke ladang oleh Mamak dan Bapak. Atau diajak nguras kali untuk menangkap ikan. Atau mancing bersama bapak. Terkadang juga diajak masuk alas untuk mencari kayu sama bapak. Meskipun begitu keluar dari alas (hutan) kulit yang tidak tertutup pakaian pada perih terkena sayatan rumput atau ilalang, rasanya semua itu tetap menyenangkan. Karena biasanya di hutan banyak sekali tanaman dan binatang liar yang menarik perhatian.

Saya juga ingat (ketika kedua adik saya belum lahir), saat sedang bermain, tiba-tiba saya menangis, lalu sama mamak saya dipanggil dan dipeluk, diajak tidur sambil berkata kepada bapak, "Bocah iki lagi gak enak badan." Dari sana saya tahu, bahwa mamak saya juga menyayangi diri ini. Kesibukannya mendampingi bapak mencari nafkah, membuatnya tidak mungkin selalu ada untuk saya. Untuk kami anak-anaknya. 

Itulah beberapa kenangan masa kecil saya. Ada bahagia, ada derita. *tsaaah...

Mendampingi pertumbuhan anak


Pelajaran buat saya: Sebagai orang tua, mendampingi tumbuh kembang anak dangatlah penting. Membangun kebersamaan yang solid antar saudara. Dan tidak membiarkan mereka sendirian, kesepian, dan ketakutan. Karena hal itu akan terus ia bawa hingga dewasa. Bahkan hingga di kehidupan rumah tangganya.

Semoga Allah senantiasa melindungi anak-anak kita beserta keluarga, dari kekejian dunia luar sana.

2 comments:

  1. Mntap... Bisa kunjungi nih seputar kesehatan www.bukukesehatan.com

    ReplyDelete