12 December 2018

Hal Yang Paling Kusesali



Setiap orang pasti memiliki hal-hal yang ingin dilupakan. Memiliki hal-hal yang ingin dikenang. Dan hal yang disesali. Dilupakan jika itu hal yang menyakitkan. Dikenang apabila menyenangkan. Dan disesali apabila itu hal bodoh yang seharusnya tidak kita lakukan. Namun, terlepas dari keinginan-keinginan tersebut, kita semua pasti tau, banyak hal yang ingin kita lupakan justru sering menghantui. Seolah dia tidak mau pergi dari pelupuk mata. Karena itulah, para nasehat itu mengatakan, “Masa lalu itu bukan untuk dilupakan. Karena kita tidak akan pernah bisa melupakan masa lalu. Tetapi masa lalu sebaiknya dijadikan sahabat. Mengajaknya berdamai.” Saya setuju dengan ungkapan tersebut. Karena memang benar adanya.


Dan kali ini, kita hanya akan membahas hal yang paling saya sesali dalam hidup saya. Yaitu, ketika saya tidak menunggui bayi saya yang waktu itu baru berusia dua hari, dirawat di rumah sakit.

Dirawat usia 3 hari

Ya. Waktu itu saya terlalu menurut ketika perawat menasehati agar saya siang saja di rumah sakit, demi kesehatan saya. Ada bener sih, tetapi kok ya kebangetan banget membiarkan bayi dirawat di rumah sakit sendirian di malam hari.

Apalagi sudah tahu ada pengalaman tidak mengenakkan. Ketika itu saya pulang sekitar setengah delapan. Tetapi karena di tengah perjalanan saya melihat ada penjual brownies, maka saya membeli satu box. Saya bisa memberikan pada perawat yang berjaga, pikir saya. Maka kami pun kembali ke rumah sakit. Dan ada rasa tersayat di jati ketika menemukan anak saya dengan mulut disumpal tutup dotan dan disolatip. 

Menurut pengakuan dua orang perawat yang berjaga, mereka melakukan itu karena anak saya menangis terus. Saya pun diam. Anehnya saya tetap meninggalkan anak saya dalam penjagaan mereka, meskipun sepanjang perjalanan saya tangisi. Begitu amat nasib anak saya. Saya berusaha positif thinking kepada para perawat.

Di kesempatan hari lain, saya juga sempat dibuat kesal, mereka bilang ASI saya tidak cukup, karena itulah mereka memberikan susu formula kepadanya. Tetapi beberapa jam kemudian, salah seorang perawat cowok mengeluarkan ASI atas nama anak saya. Ketika saya tanyakan leterangan mereka sebelumnya, mereka menjawab dengan alasan “bayinya keburu menangis”, karena itulah diberi susu formula. Saya pun hanya mengangguk meskipun hati kecewa berat.

Dan kesini, baru sekaranglah saya merasa sangat menyesali kenapa saya tidak bersikukuh menunggui anak saya ketika dirawat waktu itu? Saya benar-benar menyesal.

No comments:

Post a Comment