COVID-19 BELUM BERAKHIR


Sejak diumumkannya berakhirnya masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan beralih kepada new normal atau kenormalan baru, sebagian masyarakat yang sudah mulai merasa jenuh setelah sekian bulan bertahan di rumah aja menyambut dengan gembira. Karena dengan adanya kenormalan baru artinya kegiatan di luar rumah akan kembali diperbolehkan. Benarkah demikian? Faktanya, di luaran memang sudah mulai ramai. Aktivitas mulai berangsur pulih meskipun tetap beda.

Di daerah saya tinggal, new normal sepertinya membawa berkah buat para pedagang keliling. Mereka kembali diperbolehkan masuk kampung dan menjajakan dagangannya. Buah, tahu, kerupuk, pernak-pernik rambut, jajanan dan sebagainya.

Di beberapa tempat wisata juga sepertinya sudah mulai ramai pengunjung dengan peraturan ketat. 

Beberapa warung makan juga mulai ramai kembali oleh pelanggan. Sayangnya ada saja oknum yang secara sadar mengakui bahwa pandemi itu masih ada, namun pada prakteknya seolah-olah pandemi telah berlalu. Tindakan sebagian orang seolah mengartikan new normal sebagai hari kebebasan menebus jenuh selama kurang lebih empat bulan di rumah saja. Padahal COVID-19 masih sangat keras mengancam kesehatan. Buktinya televisi masih menginfokan angka kenaikan pasien yang terkena covid-19 setiap harinya.

Tidak masalah sih mau liburan atau makan-makan di restoran, karena kita memang rindu akan kebebasan seperti dulu, rindu keluar rumah, rindu kongkow bareng teman. Sah-sah saja kan keluar rumah untuk bersenang-senang? Saya pun rindu keluar rumah, menghirup udara segar pepohonan di taman. Rindu menyaksikan anak sulung saya berlarian di play ground dengan teman sementara yang ia temui di lapangan bermain. Saya rindu mengajaknya naik odong-odong, rindu berkumpul dengan teman. Yah receh sih, karena memang saya belum bisa mengajak anak-anak untuk menikmati suasana yang lebih dari itu. Selain pertimbangan biaya, saya type orang yang males ribet bepergian membawa duo balita, ditambah kudu bawa-bawa koper pakaian dan bekal lainnya. Jadi sementara saya memilih yang ringan saja dulu. Asal anak senang.



Bijak Menyikapi New Normal
New normal memang peluang untuk kita menghempas jenuh selama di rumah saja. Tetapi, bukan berarti boleh semau kita. Apalagi menyamakan dengan kondisi sebelum ada pandemi. Karena itu harus pandai menyikapinya. Meskipun pergi berlibur tetap harus hati-hati karena covid-19 belum berlalu.

Menyambut new Normal Ala Saya
Saya sendiri sudah beberapa kali minta diantar suami pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur, tentu saja saya berusaha semaksimal mungkin tidak bersentuhan dengan pengunjung pasar lainnya. Apalagi, penjual sayuran keliling pernah cerita ada beberapa orang pasar yang positif terpapar corona. Serem kan? Tetap khawatir meskipun bukan pasar yang saya kunjungi. Biasanya sepulang dari pasar saya langsung mengganti pakaian luar yang saya kenakanmencucibtangan, kaki, dan wajah. Baru kemudian menuju dapur atau menemui bayi saya.

Selanjutnya hal lain yang saya lakukan dalam menyambut new normal adalah:

Mencari Tempat Yang Sepi Untuk Dikunjungi
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, saya rindu mengajak anak main di luaran. Saya menyambut gembira ketika suami mengajak refrashing sederhana. Mengajak anak bermain di tempat terbuka yang banyak pepohonannya. Sebuah taman yang sepi pengunjung tentunya.

Memilih Hari Kerja Agar Tidak Berdesakan
Iyah, kami bisa jalan-jalan di hari kerja, karena suami tidak terikat pada pekerjaan. Awalnya suami saya adalah driver ojek online. Tetapi kami beruntung, terkadang doi dipanggil expedisi untuk membantu mengirimkan paketan jika sedang terjadi penumpukan. Yah meskipun sering kosong, tetapi itu lebih baik dari pada menunggu penumpang ojek di musim pandemi ini.

Jalan-jalan di hari kerja seperti hari Senin biasanya mal dan tempat wisata akan sepi pengunjung, itu adalah kesempatan baik buat kita jalan-jalan. Hehe… sekali lagi buat yang tidak terikat kerja yaaa. Hihi.

Tidak Perlu Terlalu Sering
Meskipun kerja suami tidak pasti. Yang jika dipanggil maka berangkat kerja, jika tidak dipanggil ya di rumah aja, tetap kami tidak selalu keluar rumah saat doi tidak dipanggil. Kami harus tahu prioritas. Yaitu kesehatan lebih penting, karena itu jika tidak terpaksa karena sebuah kepentingan maka kami tidak keluar. Jalan-jalan tidak perlu sering-sering kan? Bisa seminggu sekali, dua minggu, atau sebulan. Kami sih tidak pasti sebulan sekali.

Hindari Kerumunan
Menghindari kerumunna ini sudah pasti wajib ya. Karena kita tidak tahu, di antara sekian orang, mana yang kondisinya sedang tidak baik.

Tetap Patuhi Protokol Kesehatan
Masker, cuci tangan, fisical distancing, face shield dan sebagainya. Kita bisa keluar dengan aman selama tetap mematuhi protokol kesehatan.

Ida Raihan
Ida Raihan

Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga Dengan Dua Orang Anak Yang Suka Menulis Dan Membaca

24 comments:

  1. Aku keluar rumah kalau beli makanan & bahan makanan aja sih paling, ke supermarket juag paling seminggu sekali itu juga pilih waktu yang sepi

    ReplyDelete
  2. Meski new normal, aku pun masih tetap di rumah saja dan pergi hanya jika perlu kaya ke pasar atau ATM. Nongkrong, gak dulu lah. Tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan juga

    ReplyDelete
  3. Nah, ini dia yang bikin aku gemes kepengen cubit orang2 yang masih menganggap enteng virus corona hhhmmm..... Memang sih di new normal ini kita sudah bisa bepergian ke mana2 malah ke luar negeri segala. Tapi wajib diingat dan diterapkan semua protokol kesehatan oleh masayrakat supaya aman dan tenang.

    ReplyDelete
  4. Setuju, Mbak, tetap harus berlakukan protokol kesehatan dengan tepat karena virus itu masih ada di sekitar kita. Sekarang sedihnya banyak banget yang abai

    ReplyDelete
  5. Meski sudah new normal, saya masih menahan diri untuk tak keluar rumah kalau nggak penting banget. Anak-anak juga masih nggak boleh main keluar rumah

    ReplyDelete
  6. Kapan hari aku keluar agak jauh ya ke Mall Royal Plaza.
    Meet up dan lunch ama mba Avy
    tapi sebentaaaaar banget, ga nyampe sejam udah cuss pulaaanggg

    ReplyDelete
  7. Saya masih belum berani keluar rumah jauh-jauh. Paling cuma ke minimarket dekat rumah. Kalo sayur, ada tukang sayur yang masuk kompleks, jadi ndak perlu ke pasar. Di Makassar new normal kayak beneran back to normal, kayak ndak ada apa-apa. Jalanan tetap rame seperti sebelum pandemi. Saya malah jadi ngeri sendiri.

    ReplyDelete
  8. Halo mba. Aku selama pandemi ini masih tetap bekerja seperti biasa. Walau begitu masih tetap patuh untuk jaga protokol kesehatan mba. Seih keadaan begini mb

    ReplyDelete
  9. Kayanya aku juga kaya mbak, uda ada 2c ke mall pas ada yg di cari. Yg penting tau batas dan tetep kesehatan nomer 1 ya

    ReplyDelete
  10. Iya aku masih tetap membatasi keluar rumah apalagi kasusnya sedang melonjak, jadi paling ke supermarket, atm dan ambil buku di sekolah..ajak anak-anak makan di luar cari tempat sepi..

    ReplyDelete
  11. Aku keluar rumah ke kantor. Setelah 3 bulan cuti, awal Juli 2020 saya masuk kerja lagi itupun dengan protokol kesehatan.

    Tapi saya suka sebel, kenapa masih banyak orang yang berwisata dan beramai-ramai.

    ReplyDelete
  12. Di kota saya juga suasananya udah seperti dulu, saat sebelum pandemi. Hanya bedanya, pada pakai masker.
    Saya sendiri lebih memilih diam di rumah. Keluar rumah kalau benar-benar ada keperluan mendesak

    ReplyDelete
  13. Sudah terasa lebih longgar sekarang ya...
    Aku belum pernah ke mall, kak...soalnya merasa...apa yang mau dibeli, hehhee..
    Lebih nyaman mager di rumah, beli makanan online dan dinikmati bersama di rumah.

    ReplyDelete
  14. Sejujurnya aku pun rindu melihat anakku berlarian di playground mba. Hal-hal receh kaya gitu justru yang dirindukan yah mba, aku juga.

    ReplyDelete
  15. Covid-19 belum berakhir, tapi suasana di luar sana malah udah biasa banget. Padahal kasus lagi meningkat lho. Hiks. Pas kasus belum sampai 10 aja khawatirnya. Cckckck..

    ReplyDelete
  16. Di saat new normal begini menurut saya justru harus semakin meningkat kewaspadaannya. Karena udah banyak yang beraktivitas di luar. Makanya saya suka kesel kalau malah ada yang mengabaikan protokol kesehatan

    ReplyDelete
  17. As the new normal. Every day the pandemic is grow up for many area. And always get new cluather. From so many clusther, kidz, school, market, office etc.

    ReplyDelete
  18. Saya pengen banget ngajak anak-anak main, kasian 4 bulan di rumah aja, tapi belum berani, dan masih nyari tempat yang cocok...

    ReplyDelete
  19. New normal versi aku adalah berhenti mandi melulu setiap keluar rumah. Wkwk. Jujur dulu tuh parno berlebihan sih, setiap keluar bahkan ke indomaret yg deket rumah aja harus mandi n ganti baju ketika sampe rumah. Akhirnya jera krn sempet kecelakaan gegara saklek banget gini.

    ReplyDelete
  20. Kalau keluar rumah itu paling susah menghindari kerumunan. Ya paling bener y sementara di rumah aja kali ya

    ReplyDelete
  21. Sebagian orang, kelihatannya, menganggap new normal berarti normal. Balik ke cara hidup seperti sebelum ada covid. Nah ini yang bikin kuatir. Dengan cara berpikir seperti itu wabah akan semakin besar dan akan memakan korban banyak sekali.

    Semoga kita tak seperti itu ya

    ReplyDelete
  22. Aku termasuk yang harus kelua rumah mba. Karena si rumah ada warungan dan juga ak kudu ambil konten toko roti. Meski sering kelua tapi ak tetep jaga diri menghindari dari kerumunan intinya

    ReplyDelete
  23. Bismillah saja kalau pergi keluar rumah yang penting patuhi protokol kesehatan dan hindari kerumunan

    ReplyDelete
  24. Kalau keluar rumah, sejauh ini aku ke kafe buat kerja saat wifi lagi nggak oke banget. Itu pun cari tempat yang lagi beneran sepi. Selain parno sama keramaian selama pandemi ini, kalo buat kerja emang enaknya di tempat yang sepi aja sih ahahaha

    ReplyDelete