Ramadhan Ditengah Pandemi Covid-19

Ramadhan Di Tengah Pandemi covid-19


Menjalani puasa Ramadhan dengan segala keunggulan yang akan diperoleh adalah impian semua kaum muslimin di manapun berada. Pahala yang berlipat dengan segala kebaikan yang diperbuat. Berkah di mana-mana. Seperti yang ditulis Mbak Enny Luthfiani dalam blognya, Berkah Ramadhan.


Namun, tahun ini berbeda. Ramadhan tidak lagi penuh ketenangan. Tidak lagi terdengar lantangnya suara bilal menyerukan sholawat di setiap dua rakaat sholat terawih. Dan tidak juga terdengar suara tadarusan. Hingga mendekati hari kemenangan. Yang ada di mana-mana merasakan adanya ujian.

Beberapa teman yang bingung mau masak apa karena terkena dampak corona, teman yang sedih tidak bisa bertemu orang tua, teman yang sedih karena tidak bisa bertemu keluarga.

Pun kami. Ya kami juga menjadi salah satu di antara yang menjalani Ramadhan dengan ujian terdampak covid-19. Awalnya saya tidak begitu memusingkan kondisi kami, karena saya percaya rejeki Allah yang akan menghandle semuanya. Saya percaya, Dia tidak akan membiarkan kami kelaparan. Masya Allah, benar saja, rejeki kami justru semakin berlimpah meskipun tidak dalam bentuk uang. Kami sehat semua dan sama sekali tidak kekurangan makanan. Ramadhan masih bisa kami lanjutkan dalam kebahagiaan.

Terdampak Covid-19
Sebagai driver ojek online, jelas pendapatan suami sangat terpengaruh dengan mencuatnya isu covid-19. Namun, sepakai orang yang paling bertanggung jawab dalam urusan nafkah seluruh keluarganya, dia tetap harus melanjutkan perjuangan di jalanan. Meskipun tahu seberapa besar bahayanya penyakit virus satu ini, suami tetap harus berpenghasilan. Karena itu dia tetap menjalani profesinya dengan membawa barang serta penumpang agar tetap peroleh rejeki untuk keluarga di rumah. afalah betul, bahwa pendapatan dari ojek turun drastis, namun hal itu tidak membuatnya menyerah. Dia terus berusaha. Setidaknya orderan Grab Food masih bisa diandalkan.

Ramadhan Dan PSBB
Ramadhan tiba. Jika sebelumnya penumpang mulai sepi, karena banyak orang yang takut untuk naik ojek, suami masih bisa peroleh penumpang via kiriman barang dan pesenan makanan, setelah Ramadhan datang, tidak ada lagi orang memesan makanan. Orderan semakin sepi, karena sedikit sekali orang yang masih mau naik ojek. Lalu undang-undang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diumumkan, tepat empat hari setelah Ramadhan. Drive ronline dilarang membawa penumpang. Didukung dengan lenyapnya fitur untuk penumpang memanggil driver ojol. Ojek online pun komplit jarang bisa beroperasi. Karena tidak selalu ada kiriman barang. Tidak ada lagi penumpang tidak juga order makanan.

Lebih Lama di Luaran
Dalam kondisi yang serba dibatasi, akhirnya dengan sendirinya, jam di luarnya suami menjadi lebih panjang. Pagi terkadang berangkat jam 09:00 pulang bisa sampai di atas jam 22:00. Bahkan semakin sering pulang mendekati jam 12 malam. Saya, meskipun keberatan akhirnya harus merelakan.

Kami tidak sendiri. Hal semacam ini dialami oleh ribuan orang lainnya. Nasib kami mungkin lebih beruntung, karena meskipun belum bisa menutup semua kebutuhan saya masih bisa peroleh uang belanja dari kegiatan di sosial media dan blogging. Sementara di luaran sana, ada ribuan, bahkan mungkin jutaan, yang tidak ada pemasukan sama sekali selain dari ojek online. Dan kini mereka harus berjuang melewati masa-masa sulit ini. Semoga pandemi segera berlalu.



Berbuka Sendirian
Seharusnya saya sudah terbiasa dengan kesendirian. Saya sudah menjalani kehidupan dengan kesendirian selama kurang lebih 20an tahun. Seharusnya saya sudah terbiasa. Dan memang itu terjadi. Banyak Ramadhan telah saya lewati dengan berbuka dan sahur sendirian. Sejauh itu, tak pernah ada rasa sedih maupun hampa. Begitu pun Ramadhan kali ini. Ketika saya harus merelakan suami yang mencari nafkah di luaran hingga larut malam, saya harus bisa mengurus semua di rumah sendirian. Beruntung ada ibu mertua yang terkadang membantu memegang si bungsu Nadine, ketika saya sedang sibuk berurusan dengan pakaian dan kakaknya yang super aktif.

Hingga beberapa waktu lalu, saya membaca postingan salah seorang sahabat, tentang "Ramadhan yang berbeda". Entah kenapa air mata ini seperti menyeruak ingin keluar. Saya merasakan kehampaan.

Ketika beberapa teman dan suaminya work from home (WFH), sehingga bisa berkumpul dengan keluarga di rumah, suami saya justru harus berjuang di luar rumah dengan segala upaya. Alhamdulillahnya, suami peroleh kerja sampingan dari ekspedisi yang tengah overloads. Alhasil kami tidak kekurangan untuk biaya kebutuhan selama Ramadhan. Rejeki dari arah lain pun terus-menerus datang. Alhamdulillah.

Sejak menikah hampir 6 tahun lamanya, kami selalu melakukan banyak hal bersama. Dari mencari nafkah hingga mengurusi urusan rumah tangga. Makan dengan piring yang sama, sepiring berdua. Jadi, meskipun berusaha cuek, dengan kesendirian saat berbuka, begitu ada pemicunya saya langsung merasa hampa. Ingin kembali bisa bersama-sama. Membangun usaha dari rumah seperti dulu. Sayangnya saat ini kami harus bersyukur dengan apa yang ada. Karena ada banyak karunia yang harus terus disyukuri ketimbang hanya menggerutu dengan kondisi yang ada. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang akan kamu dustakan?

Maaf ya Teman-teman, tulisan saya kali ini murni curhatan semata. Abaikan jika tisak ada yang bisa dipetik manfaatnya. Karena sayanhanya ingin mengabadikan, moment Ramadhan kami di tengah musim pandemi covid-19 ini.

Selamat Menyambut Hari Raya Iedul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Tabik
Ida Raihan
Surabaya, Jum'at, 22 Mei 2020 (05:37)
Ida Raihan
Ida Raihan

Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga Dengan Dua Orang Anak Yang Suka Menulis Dan Membaca

16 comments:

  1. tidak bebas mencari takjil juga ya mba haha, saking sulitnya keluar dan jarang jualan makanan juga. jadi kalo lagi enggak masak, keliyengan cari tempat makan yang buka, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Aku kalo malem suami bawain makanan juga mentoknya di nasi atau mie goreng karena susah nyari yang jualan.

      Delete
  2. Salah satu hikmah Ramadan di tengah pandemi akhirnya Mba Ida ama suami bs sepiring berdua, so romantic hihi. Selalu ya ada bright side bersama dark side, huhuu

    ReplyDelete
  3. Tahun ini, ada banyak banget pembelajaran yang bener-bener menempa diri biar lebih baik lagi. Dan salah satu Ramadan yang spesial juga karena banyak hal yang enggak bisa dilakukan bersama

    ReplyDelete
  4. banyak hikmah yang bisa diambil ya kak ramadhan tahun ini..semoga pandemi ini cepat berlalu dan kegiatan normal seperti dulu lagi.. Amin YRA selamat idul fitri mba Ida

    ReplyDelete
  5. Memang rasanya nggak semarak tahun sebelumnya. Tapi pasti Allah menakdirkan ini semua untuk kita ambil hikmahnya. Semoga bisa cepat berkumpul lagi ya mbak.

    ReplyDelete
  6. Tetap semangat ya Mbak dan suami. Semoga pandemi ini cepat berlalu dan selalu ada rejeki yang barokah untuk keluarga

    ReplyDelete
  7. Banyak yang terdampak dari kondisi seperti ini
    semoga kita semua diberikan kekuatan dan ketabahan yang melimpah ya mba
    tetap jaga kesehatan :)

    ReplyDelete
  8. Aku juga terkena dampaknya say. Toko tutup total sebulanan setengah cuma mengandalkan 2 minggu terakhir. Itupun kalau bisa dibilang hanya 3/4 dari prndapatan waktu normal

    ReplyDelete
  9. Tulisan ini membuat kita saling menguatkan kak Ida. Saya pun menjadi pihak terdampak pandemi ini .tapi kita tidak mau menyerah. Suami tetap menjadi kurir belanja bagi teman-teman kami. Kadang mengantarkan paket. Saya selalu percaya, rezeki itu bukan hanya dari usaha kita, yang penting ikhtiar, selanjutnya urusan Allah semata.. keep strong kak Ida ❤️

    ReplyDelete
  10. Benar banget nuansa dan rasa ramadhan kali ini berbeda ya, berasa sepi karena ga banyak jualan dan event ngumpul2 bareng teman

    ReplyDelete
  11. Semoga Allah mudahkan rezeki Mbak Ida dan keluarga. Bagaimana pun kita memang harus terus berikhtiar dalam menjemput rezeki, apapun selagi halal, semoga Allah Ar-Rozzaq bukakan pintu rahmat-Nya. Terkait Ramadhan tahun ini memang berat, semoga pandemi bisa segera berakhir dan kita bisa ber Ramadhan seperti sedia kala tahun depannya. Insyaa Allah

    ReplyDelete
  12. Suami Mba Ida sudah lebih dulu menjalankan new normal ya mba. Semoga senantiasa sehat beserta keluarga. Suami saya pun demikian mulai Senin mendatang. Doa-doa terbaik menyertai kita semua. Amin.

    ReplyDelete
  13. kalo aku dan sekeluarga merasakan hal-hal yang berbeda dari ramadhan sebelumnya, yang sebelumnya bisa kumpul saat ini hanya bisa komunikasi dari video call saja. semoga virus ini cepat hilang amin

    ReplyDelete
  14. Semua lini, semua profesi terdampak covid 19 tanpa kecuali. Semoga setelah ini banyak kegembiraan, kesukacitaan, kebahagiaan, dan kemudahan urusan ya, Mbak. Allah memberkati

    ReplyDelete