Pipiet Senja, Penyintas Thalasemia Penuh Inspirasi

Sosok Inspiratif, wanita insiratif, Pipiet Senja

Jika ditanya bagaimana saya belajar melewati tantangan tersulit dalam hidup saya, selain mamak dan bapak saya yang mendoakan, maka dialah Pipiet Senja, sosok inspiratif yang telah mengalirkan kekuatan untuk terus menjalani kehidupan dengan bahagia. Penulis buku "Bagaimana Aku Bertahan" dan ratusan buku lainnya ini adalah inspirasi yang tiada habisnya. Kami bertemu pertama kali 12 Februari 2011 malam di kediaman beliau setelah sebelumnya saling sapa melalui facebook, multiply, yahoo messenger dan sms. Saat itu beberapa hari sebelumnya, beliau menyebut nama saya di sebuah postingan sosial media, merekomendasikan nama saya menjadi salah satu pengisi acara kepenulisan di kota Depok bersama beliau. Saya menyanggupinya meskipun sebenarnya belum pernah sekalipun menjadi pembicara sebelumnya. Apalagi berbicara tentang dunia kepenulisan. Saya juga belum aktif ngeblog ketika itu. Hanya berbekal pernah menulis sebuah novel solo, beberapa antology keroyokan, buku duet inspirasi, dan novelet bertiga.

Pertemuan Dengan Pipiet Senja
Saat itu saya yang sedang berada di Tasik Malaya, seketika merapikan semua barang-barang yang saya miliki, dan memasukkannya ke dalam koper, begitu peroleh info kegiatan sudah fix. Saya akan ke Jakarta dan menginap di hotel mewah, Teh Pipiet Senja, bareng kenalan saya, Mbak Mala. Mbak Mala adalah wanita yang paling berjasa dalam hidup saya selama saya berada di Jakarta (insya Allah akan saya tulis ceritanya di lain kesempatan)


Sosok Inspiratif, wanita insiratif, Pipiet Senja

Malam itu, saya dan Mbak Mala disambut baik oleh Teh Pipiet Senja. Setelah makan malam di rumah Teteh, kami langsung istirahat buat persiapan esoknya. Keesokannya, pagi setelah sarapan, kami langsung meluncur ke tempat lokasi yang akan dilangsungkannya acara, dengan mengendarai mobil mereka. Alhamdulillah Teh Pipiet yang menjadi pembicara pertama, Untuk pertama kalinya saya menyaksikan langsung bagaimana seorang Pipiet Senja mengisi acara kepenulisan. Baru kemudian giliran saya. Alhamdulillah lancar, meskipun itu pengalaman pertama. Ternayata menjadi pembicara tidak serumit yang dibayangkan, asal pede dan berani mencoba.

Komunikasi Berikutnya
Sejak itu, kami semakin sering berkomunikasi. Saya semakin tahu, betapa seorang Pipiet Senja yang telah sukses menerbitkan ratusan buku sangat baik dan rendah hati. Beliau tidak pelit ilmu. Selalu menyemangati saya dan para penulis lainnya untuk terus menulis dan membuat karya. Itu saya rasakan langsung ketika saya masih tinggal di Jakarta dan Cikarang.

Saya ingat sekali, ketika suatu hari Teh Pipiet Senja mengirimkan sebuah SMS, "Ida aku di PGC (Pusat Grosir Cililitan) nih, ayo kita ke toko buku." Saya yang saat itu belum mandi langsung bergegas mandi, memoles wajah alakadarnya, dan langsung meluncur ke PGC. Sayang toko buku yang kami cari tidak ada. Akhirnya kami hanya jalan-jalan saja di sana. Awalñya Teteh mengajak ke Cijantung, tetapi karen kami berhenti lama di toko sepatu, akhirnya ke Cijantung pun batal. Hari itu saya dibelikan sepatu baru yang manfaatnya luar biasa, karena sepatunya sangat awet sampai bertahun-tahun saya gunakan untuk banyak kegiatan. Baik itu ngantor maupun keluyuran. Sepatu serbaguna ceritanya. Hehe.

Undangan TV One Hingga Panggung Utama Islamic Book Fair
Karena seringnya saya diajak oleh Teteh (begitu saya memanggil Pipiet Senja), saya jadi bisa bertemu para penulis papan atas. Seperti Bapak Taufik Ismail, Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan lain-lain. Bahkan saya berkesempatan diundang di acara Berita Pagi TV One, Mengisi acara di suatu tempat, hingga menjadi narasumber di panggung utama Islamic Book Fair bersama beliau. Masya Allah, boleh donk saya merasa bangga. Hehe.


Sosok Inspiratif, wanita insiratif, Pipiet Senja

Pipiet Senja adalah orang yang paling berjasa dalam proses menerbitkan novel solo saya di tahun 2012. Beliau lah yang memilihkan penerbit untuk saya, sekaligus yang menyunting naskah novel saya.

Belajar Keikhlasan
Sebagai single lillah yang hidup sebatang kara di Jakarta, saya sangat bersyukur karena Allah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik hati seperti Pipiet Senja. Kehadiran beliau sungguh membuat saya membuka pikiran, yang ketika itu adalah tahun terapuh disepanjang hidup saya. Dikhianati pasangan, lalu bercerai. Hal yang sangat menyakitkan tentunya. Namun Pipiet Senja hadir memberikan contoh secara langsung kepada saya, apa itu keikhlasan dalam setiap takdir Allah. Beliau pernah peroleh banyak penganiayaan sebelum melepaskan diri dari perlakuan tersebut, namun beliau ikhlas menerima semua itu, dan memaafkan.

Belajar Kesabaran
Pipiet Senja wanita hebat yang sangat sabar. Darinya saya belajar tentang kesabaran. Sabar dalam menerima ujian hidup. Sabar ketika ada yang menghujat, mengejek dan menghina. Bagi Pipiet Senja, yang terpenting adalah terus melakukan kebaikan di muka bumi ini.

Belajar Kekuatan
Dari Pipiet Senja juga saya belajar kekuatan. Bagaimana seorang Pipiet Senja bertahan dari ganasnya sebuah kehidupan. Menjadi orang tua tunggal dalam membesarkan kedua anak-anaknya.

Pernah suatu hari, beliau sama sekali tidak memiliki uang, di rumah ada koran-koran bekas, beliau dengan menuntun anaknya menjual koran tersebut ke pengepul, peroleh sedikit uang untuk dibelikan kerupuk yang kemudian buat makan bersama anak-anaknya.

Penyintas Thalassemia Yang Tangguh
Bagi yang sering membaca karya Pipiet Senja dan mengikuti sosial media beliau, pasti tahu, bahwa seorang Pipiet Senja adalah survivor dari penyakit hati bawaan. Yaitu thalassemia. Setiap dua bulan sekali, beliau harus menjalani perawatan di rumah sakit. Berdamai dengan kantong darah dari para donatur. Yang luar biasa, beliau tetap tangguh dan tetap berkarya dalam kondisi diinfus sekalipun! Masya Allah.


Sosok Inspiratif, wanita insiratif, Pipiet Senja


Dermawan Yang Tawadhu
Selain poin-poin di atas, masih banyak lagi yang saya pelajari dari seorang Pipiet Senja. Di antaranya adalah, sikap tawadhu beliau. Teh Pipiet Senja penyuka warna ungu. Hampir semua baju Teteh adalah ungu. Dan tidak banyak!

Pipiet Senja sangat beda dari para ibu kebanyakan. Jika para ibu sering berganti fashion dan memiliki banyak pakaian, tidak begitu dengan Teh Pipiet. Pakaian Teh Pipiet sangat sedikit, bukan karena tidak mampu membeli, karena sebagai penulis senior terkenal dan sudah ratusan buku beliau terbitkan, karya Pipiet Senja dihargai lumayan mahal oleh penerbit. Hanya saja Pipiet Senja suka berbagi. Ada banyak anak asuh yang beliau bantu. Plus setiap membeli satu gamis, maka Teh Pipiet akan menghibahkan gamisnya yang lain sehingga tidak menumpuk di lemarinya. Masya Allah.


Sosok Inspiratif, wanita insiratif, Pipiet Senja

Begitulah, bagi saya, Pipiet Senja adalah guru kehidupan yang sungguh mulia. Semoga Allah akan terus menjaga beliau dan keluarganya. Sehat dan panjang umur agar terus bisa berdakwah dengan karya-karya beliau.

Sayangnya, sekarang kami sudah jauh. Beliau di Jakarta, sementara saya mengikuti gerak suami yang kembali ke tanah asalnya. Surabaya. Ah… menulis ini, rasanya ingin menangis. Rinduu sekali pada beliau. Menyesal sekali belum bisa membalas semua kebaikan beliau kepada diri ini. Beri saya kesempatan untuk membalas semuanya yaa Allah.
Ida Raihan
Ida Raihan

Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga Dengan Dua Orang Anak Yang Suka Menulis Dan Membaca

14 comments:

  1. Berarti teh Pipiet Senja ini pengidap Thalasemia ya kak..hebat euy..sepupu sy ad yg pengidap Thalasemia Mayor cewe dan cowok kakak adik . Yg cowok sdh berpulang tinggal yg cewe. Adakah buku beliau ttg Bagaimana bisa survive dengan Thalasemia nya? Kalau ada sy mau beli dan sy kasih ke sepupu sy spy termotivasi.

    ReplyDelete
  2. Masya Allah terhari banget baca tulisan ini. Semasa mahasiswa saya sering baca tulisan - tulisan Pipiet Senja,baik yang dimuat di Majalah Ummi maupun novelnya. Doa terbaik untuk beliau. Semoga Allah selalu menguatkannya. Aamiin...

    ReplyDelete
  3. Daku termasuk pembaca buku-buku Pipiet Senja, Asma Nadia dan Ifa Avianty pas masih sekolah dulu. Taunya gara-gara baca majalah Annida.

    Dan lama banget ga tau kabar beliau. Jadi cukup kaget pas tau beliau kena thalasemia.

    Daku bahkan baca buku karya anaknya mak Pipiet. Yaa allah semoga allah menguatkannya dan memberi kesembuhan

    ReplyDelete
  4. masyaallah menginspirasi banget ya orang-orang seperti beliau tuh, hebat banget bisa tetap kuat menghadapi segala cobaan masyaallah, semoga kita pun juga tetap kuat ketika dihadapkan cobaan. aamiin

    ReplyDelete
  5. Salut kalau sudah baca tentang Bu Pipiet Senja ini. Tahun lalu Komunitas Ibu Profesional pusat mengadakan kulwap bersama Pipiet Senja ini. Malu sama beliau yg mengidap Thalasemia tapi bukunya ya ampun buanyaaakkk... Masyaallah

    ReplyDelete
  6. Buku beliau sangat menarik untuk dibaca dengan diksi yang memikat. Semoga Allah berikan kesembuhan untuk beliau.

    ReplyDelete
  7. Masya Allah, semoga sehat-sehat selalu dan diberi kekuatan dan ketabahan

    ReplyDelete
  8. Mbak idaa aku baca ini dan aku merasa malu. Bukan sama Teh Pipit nya, tapi malu pada mbak idanya. Lah kemana aja aku waktu Mbak Ida sendirian di Jakarta jatuh sedemikian rupa nya dan aku bener-bener nggak tahu, maafiiiin yah.

    Btw, di tahun segitu Kayaknya aku masih di Berau benar-benar jauh dari pusat Kota buat internetan Kayaknya masih dibatasin saat itu karena susah sinyal dan tiap hari mati lampu maafin kalau sampai lost contact yah.

    Sekarang keadaan Alhamdulillah sudah lebih baik sangat baik ya, juga dengan Teh Pipit semoga terus sehat dan kuat. Sehat pun harus lebih semangat Jangan mau kalah sama beliau

    ReplyDelete
  9. Masya Allah, semoga sehat-sehat selalu dan diberi kekuatan dan ketabahan, Buku beliau sangat menarik untuk dibaca dengan diksi yang memikat dan semoga Allah berikan kesembuhan untuk beliau.

    ReplyDelete
  10. Pipiet Senja adalah tokoh di dunia literasi sangat menginspirasi, apalagi bagi teman-teman saya di FLP, beliau ini memang panutan. Semoga Allah beri ketabahan bagi beliau dalam menghadapi penyakitnya

    ReplyDelete
  11. Salut sama beliau. Selain penyintas thalasemia beliau juga sabar sekali menghadapi almarhum ibu mertuanya.
    Sering baca update status beliau di medsos.

    ReplyDelete
  12. Saya pembaca novel Bunda Pipiet Senja, tahu beliau penyintas Thalasemia juga dari novel beliau.

    ReplyDelete
  13. Duuuh beliau ini penulis legend yaaa. Bukunya masya Allah, pas zaman saya masih kuliah di Bogor banyak banget teman-teman yg baca. Judulnya macam-macam. Beliau layak menjadi sosok panutan untuk Mba Ida dan perempuan mana pun.

    ReplyDelete
  14. Saya baru tahu sosok ibunda Pipiet senja ini dan kagum akan semangatnya dan sista juga hebat sudah jadi pembicara mengenai penulisan... Aku masih belum pede jika diminta hihi

    ReplyDelete