21 December 2018

Cinta Dan Pengorbanan Seorang Ibu




Selamat Hari Ibu

Happy Mother's Day!

Menuliskan tentang dirimu, tentu tidak akan pernah selesai untuk lembar demi lembar buku, karena perjuanganmu begitu panjang mendampingi keluarga.


Ibu, ongatkah engkau satu kejadian? Ketika aku masih kecil dulu, saat aku menjadi anak satu-satunya di rumah ketika kedua kakakku pergi ke sekolah. Mainan apa adanya yang kudapat dari kebun maupun yang ada di dalam rumah. Saat itu pilihanku jatuh pada sandal-sandal buluk milik kita semua.

Ya sandal sekeluarga yang diacak, di lantai ruang tamu, kemudian kubuat alat yang bahannya di dapat dari kebun untuk membuat pancing-pancingan (kayu sepanjang setengah meteran, dikasih tali dari gedebok, lalu dikasih pengait ujungnya). Aku bahagia dengan mainan sesederhana itu. Dan kau pun bebas dari rengekan anakmu, dan bebas mengerjakan semua tugas rumah tanggamu. Kau Ibu.



Suatu hari, ketika aku sedang bermain dengan pancing-pancingan dan ikan-ikanan dari sandal yang sudah diacak itu, entah mengapa, tiba-tiba aku merengek. Lalu duduk di tanah dan menangis di sana. Kau pun datang kepadaku. Menggendong tubuh ringkihku, untuk kemudian kau ajak ke pembaringan. Dan aku pun terlelap dalam pelukmu. Ibu kau bisa merasakan bahwa anakmu sedang tidak enak badan. Sedangkan si kecil itu sendiri tidak tahu kenapa dia begitu.

Aku masih terlalu kecil untuk faham bahwa tubuhku sedang sakit. Tetapi aku ingat sekali, bahwa apa yang kau lalukan itu, adalah wujud cintamu kepadaku. Terimakasih Ibu. Aku tahu, kau menyayangiku.

Kini, aku telah dewasa. Usiaku, bahkan mungkin lebih tua dari usiamu ketika itu. Dan aku juga telah menjadi seorang ibu. Mungkin usia anakku kini, seusiaku ketika kau peluk dulu. Ah... ibu, itu kenangan termanis yang kupunya. Yang tak akan pernah bisa kulupa. Semoga engkau panjang umur Ibu. Bahagia terus bersama Ayah, dunia akhirat.



Mimpi Untuk Ibu

Sebagai seorang anak tentu ingin sekali membalas perjuangan ibu di masa dulu. Yang merawat dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih. Sayangnya, hingga saat ini, mimpi untuk membahagiakan ibu (dan ayah tentunya) belum juga terwujud. Karena memang kondisi belum memungkinkan. Yang ada justru sebaliknya. Saya masih sering merepotkan ibu.
Mimpi saya untuk ibu sebenarnya sederhana. Bisa membelikan kendaraan dan hunian yang nyaman bagi mereka. Bisa mengumrohkan, dan juga mensupport segala kebutuhan keduanya. Semoga Allah segera mewujudkan mimpi tersebut.

Pelajaran Dari Ibu

Ibu saya adalah pekerja keras. Sebagai seorang istri beliau sangat taat dan setia kepada suami. Karena apa pun tindakan yang akan dilakukan, ibu selalu meminta ijin atau pendapat ayah. Jika ayah bilang “iya” maka ibu akan melakukannya. Namun jika “tidak”, ibu pun tidak akan melakukannya.

Saya tahu betul kehidupan ekonomi keluarga kami. Sejak ayah sakit-sakitan dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga, ibulah yang mengambil alih peran tersebut. Ibu bekerja keras demi mencukupi semua kebutuhan anak-anaknya. Ibu rela menjadi buruh kasar di ladang-ladang orang dengan upah yang tak seberapa. Bahkan terkadang ada yang tega tidak membayarnya. Namun ibu tidak menyerah dengan terus bekerja kepada para petani yang membutuhkan tenaganya. Bersama para ibu lain di kampung, mereka bahu-membahu memborong pekerjaan demi Rp. 3000 (jaman saya kecil) – Rp. 35.000 (zaman sekarang). Sungguh upah yang tak seberapa jika dibanding tenaga yang dikeluarkan di bawah terik matahari selama seharian.

Kini ibu semakin tua. Tenaganya tidak lagi sekuat dulu. Tetapi demi melanjutkan hidup, ibu masih meneruskan perjuangannya melanjutkan hidup sebagai petani. Ibu tidak lagi menjadi buruh di ladang orang lain. Tetapi ibu tetaplah pekerja keras yang mengais rejeki dari ladangnya sendiri. Sebagai petani karet.

Semoga saya segera diberi kemampuan untuk mewujudkan semua impian ini.

2 comments: