28 November 2018

Aku Mencarimu, Aku Merinduimu



Dia hanyalah seorang anak kecil. Yang tidak berani bagaimana menggambarkan kesedihan di wajahnya polosnya. Benar dia kelas dua sekolah dasar, tetapi dia tetap anak-anak. Yang tidak siap malu ketika ada yang melihatnya bersedih bak orang dewasa. Tetapi, kau tahu? Dia menangis. Menangis dalam diam, ketika dia pulang mengambil rapot pagi itu, pergi ke rumahmu dan tidak mendapatimu di sana.
"Dia ikut Mbahnya ke Jawa." Kata ayahmu. Anak kecil itu hanya diam. Menatap hampa wajah ayahmu yang sejenak berhenti dari aktivitas dengan cangkulnya di samping rumah kalian. "Berangkat tadi pagi." Anak kecil itu menahan sesak dan airmata agar tidak terlihat oleh ayahmu. Siang itu dia kelimpungan, tidak tahu kemana akan berbagi tahu tentang nilai rata-rata dan nemnya yang tercantum bagus di rapornya. Kau adalah atu-satunya sahabatnya, namun kau telah pergi tanpa pamit.


Pagi itu, gadis kecil itu telah rapi dengan seragam sekolahnya. Dia akan mengambil rapot kenaikan kelasnya. Dari kelas dua, naik ke kelas tiga. Dia heran ketika sampai di sekolahan tidak melihat dirimu. Begitu pun di dalam kelas, pun hingga kelas bubar. Kau tidak muncul. Dalam benak kecilnya, dia juga bertanya-tanya, "Bagaimana mungkin, di acara yang begitu penting kau tidak datang?" Karena itulah begitu sampai rumah, dia hanya berganti baju, tanpa makan dulu, dia ingin segera tahu tentangmu. Dan jawaban ayahmu itulah yang ia dapatkan. Sedih. Sangat sedih.

Dan kini, kau ingat, berapa tahun itu berlalu? Puluhan. Ya, rambut yang mulai memutih sedikit demi sedikit ini adalah bukti bahwa kau dan dia telah menua. Puluhan tahun setelah kejadian itu, kalian tak pernah lagi berjumpa.



Kau tahu? Dia merinduimu, Kawan. Saaaangat merinduimu. Tidakkah kau merinduinya?

Aku tidak tahu, apakah akan ada kesempatan kalian untuk kembali bertemu, yang jelas, dia masih terus mendoakanmu, semoga kau bahagia dengan segala kehidupanmu. Dan berharap kelak kalian akan dipertemukan di surga-Nya.

Kau tahu? Anak kecil itu adalah aku. Seorang Ida Raihan, yang dulu menjadi tetanggamu. Teman bermainmu, juga teman tidurmu. Di mana dirimu, Sahabatku? 

Surabaya, Rabu, 28 November 2018 (22:19)

Untuk sahabatku, Erma Yuli Binti Yanto. Aku mencarimu. Semoga kau membaca surat ini. Aku merinduimu, sahabat kecilku...

No comments:

Post a Comment