0
Home  ›  Tidak Ada Kategori

Menjadi Panitia Maulid Nabi 2026, Pelipur Rindu Masa Muda Yang Hampir Sirna

"Maulid Nadi SAW 2026"

 

maulid+nabi+2026


Holla…!


Rasanya sudah lama sekali saya tidak menjadi panitia kegiatan apapun. Padahal di masa muda hingga saat baru memikah, saya bisa dibilang sangat aktif mengikuti banyak kegiatan dan menjadi pengurus suatu organisasi.


Jelas saya selalu menjadi panitia setiap kali organisasi mengadakan event. Khususnya ketika saya masih berada di negeri Jackie Chan, Hong Kong.


Pekan lalu, saya sedang di acara peluncuran ASUS, ketika seorang teman yang sekaligus tetangga mengirim pesan, “

Langsung iyain aja. Hehe berasa jadi orang baik gueh.


Flashback.


Saat masih remaja di kampung, saya juga sudah terbiasa ikut organisasi remaja Islam masjid (Risma), dan sempat menjadi pengurus juga sebelum akhirnya saya hengkang dari Lampung dan merantau ke Jawa Barat, menjadi buruh pabrik textile milik orang India.


Sayangnya saya yang baru pertama merantau ketika itu ternyata sering menangis karena merindukan rumah. Teringat Mamak. Akhirnya kurang lebih satu tahun bekerja, saya memutuskan keluar dari pabrik, dan pulang beberapa hari jelang kerusuhan 98.


Saat kembali ke kampung halaman, ternyata saya merasakan perubahan suasana yang berbeda di lingkungan saya mengaji. Teman-teman saya sudah membicarakan tentang cowok yang mereka kagumi di sekolah SMP mereka. Saya menjadi seperti orang asing.


Tidak tahan dengan situasi itu, saya pun kembali hengkang.


Kali ini orang tua meminta saya belajar di tempat nenek, di mana menantu lelaki nenekku adalah seorang ustadz yang memiliki banyak santri dengan sistem pembelajaran mengaji semi pesantren.

Suasana sebelum ustadz datang


Sayangnya, lagi-lagi saya merasa tidak cocok. Sayapun kembali hengkang.


Kali ini bukan untuk belajar, menuntut ilmu, tetapi sekali lagi mencoba mencari peruntungan dengan pengalaman kehidupan. Mengadu nasib ke luar negeri. Arab Saudi.


Sayangnya saya hampir mati karena disiksa majikan di Arab. Huhu… curhat.


Hong Kong, Aku Datang!


Ya, singkat cerita akhirnya saya memilih Hong Kong untuk kembali merantau. Di sana saya memiliki jatah libur, setiap akhir pekan, dan tanggal merah.


Awalnya, meskipun tetap berusaha menjalani kewajiban sholat 5 waktu, tetapi saya tidak lagi berjilbab. Bahkan saya memakai pakaian tomboy, hingga beberapa.kali dipanggil dengan sebutan “Mas” oleh orang lain.


Sampai kemudian saat Iedul fitri tiba, saya sedang jalan-jalan di taman Victoria Park dengan setelan gamis yang saya jahitkan sendiri di penjahit Pakistan.


Saat sedang berdiri di lapangan bola, tiba-tiba seorang perempuan menyapa.


“Mbak Ida? Ini beneran Mbak Ida? Wow.. Mbak Ida memang shalihah banget ya, bahkan di negeri yang begini saja masih mempertahankan gamis dan hijabnya.” ucap perempuan itu.


Deg!


Ya Tuhan, hidayah memang terkadang unik. Saat itu juga saya merasa malu sekali. Saya memakai gamis dan hijab karena lebaran. Keseharian saya adalah tomboy, bahkan tidak sedikit yang mengira saya pacaran dengan teman perempuan saya yang selalu bersama. Ihh naudzubillahimindzaalik. Saya masih normal banget donkkk.


“Ini siapa ya?” balas saya ketika.


“Ini aku lho Mbak, yang dulu Mbak marahin pas kita borong nanem singkong di ladang A.”


Ah… seketika saya teringat. Memang benar, sewaktu masih aktif menjadi remaja Islam Masjid, kami para santri sering mengambil job job di ladang untuk dikerjakan bersama-sama. Dan itu seruuu. Dan hasil kerja itu dananya digunakan untuk kebutuhan komunitas.

Ambil foto dengan jamaah


Sejak sapaan itu, pikiran saya terganggu, saya mulai memikirkan identitas saya yang seorang muslimah. Dan Allah memberi petunjuk. Saya dipertemukan dengan teman-teman dakwah dari Indonesia yang memiliki kegiatan positif. Dari mengaji bersama, melakukan kegiatan literasi, berorganisasi, hingga kegiatan-kegiatan positif lainnya.


Singkatnya, selama kurang lebih 8 tahun di Hong Kong, saya menghabiskan waktu liburan saya untuk membaur dengan mereka. Berorganisasi. Sehingga saya menjadi semakin sering menjadi panitia suatu event. Baik itu pengajian Akbar yang diadakan majelis sendiri, Dompet Dhuafa, maupun pengajian gabungan. Juga pemutaran film populer Indonesia, seperti saat boomingnya Ayat Ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain-lain.


Bertemu banyak ustadz kondang dari Indonesia, seperti Yusuf Mansur, Arifin Ilham, Ihsan Mokoginto, dan lain-lain.


Juga bertemu para pejabat dan artis Indonesia seperti Haddad Alwi, para pemain Ketika Cinta Bertasbih, dan lain-lain. Beberapa kali juga menemani mereka keliling tempat wisata Hong Kong


Selain kegiatan keagamaan ada juga wrokshop dan sharing kepenulisan, yang menghadirkan penulis terkenal dari Indonesia.


Saya juga menjadi panitia sholat Iedul Adha dan Iedul Fitri yang diadakan oleh Kedutaan Republik Indonesia di Hong Kong (KJRI)


Singkatnya saya terbiasa menjadi panitia sebuah event. Sampai kemudian saya meninggalkan Hong Kong pada 2010.


Panitia Maulid Nabi 2026


Puncaknya adalah malam ini. Jum'at 04 September 2026. Pengajian Maulid Nabi di salah satu wilayah Surabaya ini, menghadirkan seorang Ustadz bernama, KH. Masrur Malik Ubaidillah. Saya kembali merasakan menjadi panitia. 


Saya kurang begitu ingat, kapan terakhir kali saya menjadi panitia sebelum ini. Sepertinya sekitar tahun 2013 - 2015, ketika di tempat kerja saya di Jakarta mengadakan pelatihan-pelatihan. Salah satunya yang bertemakan “mandiri di negeri sendiri” untuk rekan-rekan mantan BMI (Buruh Migran Indonesia).


Dulu awal-awal di Surabaya, saya pikir, saya juga masih bisa aktif di kegiatan sosial, karena saya sudah terbiasa dengan kegiatan sosial. Saya menyukainya (saya dan suami juga dipertemukan di komunitas sosial sewaktu di Jakarta). Sebab itu, setelah menjadi warga Surabaya, saya mau saja ketika ditawari menjadi kader (berkaitan dengan kesehatan kampung secara meyeluruh), membiarkan suami menjadi ketua RT, membiarkan saya ditunjuk menjadi sekretaris kasandra (masih berkaitan dengan kesehatan warga kampung juga), menjadi ketua KIM (berkaitan dengan media kelurahan), dan menjadi ketua PKK.


Astaga… seolah saya lupa, kalau saya sudah menjadi ibu rumah tangga dengan Duo Bocils yang aktif, masih ngeblog, dan menulis juga. Huhu…


Daan ternyata benar! Saya tidak bisa melakukan semua itu! Bahkan saya merasa sangat sangat jenuh. Saya ingin menyendiri, saya tidak lagi bahagia setiap kali ada tugas. Huhu…


Endingnya, saya minta dikeluarkan dari semua kegiatan itu. Semoga Allah mengampuni dosaku, dan semua yang terkait memaafkan diriku. Huhu…


Malam ini awalnya saya sempat ragu. Seperti akan berhenti di tengah jalannya acara, karena anak sulung merengek, mengajak pulang terus-terusan. Mengantuk, katanya. Sementara Ci Bungsu Adek, sudah terlelap. Paksu sedang tidak di rumah.


Point Ceramah Maulid Nabi


Meneladani Rasulullah, bagaimana dulu Nabi Muhammad sholat malam hingga kaki bengkak.


Bagaimana Rasulullah tetap memberi makan kepada Yahudi buta, yang tetap ia suapi, meskipun menghinanya setiap hari.


Mengajarkan rasa Syukur dan sabar. Serta memberi yang terbaik kepada orang lain, bukan sisa-sisa yang kuta tidak suka. 


Bagus banget ya?


Dan masih banyak lagi pengetahuan yang disampaikan oleh beliau.


Karena saya panitia penerima tamu, dan sambil mengawasi anak-anak, saya tidak begitu fokus.


Selain diisi dengan ceramah, ada juga tampilan dari para santri Masjid Roudhotul Fallah yang tak kalah memukau.


Ditambah, puncak keseruan acara Maulid ini, yaitu jamaah yang berebut berbagai hadiah yang disediakan oleh panitia pengajian maulid, yang digantungkan di atas tempat duduk. Dari peralatan dapur, makanan, alat tulis, persabunan, dan banyak macamnya.


Itulah pengalaman saya pertama kali menjadi panitia pengajian setelah 8 tahun tinggal dan menjadi warga Surabaya.


Woah… jadi panjang ya. Hihi.


Gimana? Apakah Maulid Nabi di wilayah kalian juga ada keseruan berebut hadiah? 


Post a Comment
Search
Menu
Theme
Share
Additional JS