Day 1 No Gadget: Saat Layar Padam, Cahaya Kebaikan Terang
Ada yang bilang, anak-anak akan kehilangan kreativitasnya saat mereka bermain gadget.
Bagi saya ini antara iya dan tidak sih. Karena yang saya lihat, mereka tetap kreatif hanya saja pada lahan yang berbeda.
Jika yang disebut kreatif tanpa gadget adalah seperti jaman kecil saya dulu yang mainanya tanah liat, tempurung kelapa, manjat pohon, kelayapan ke hutan, sawah, ladang dan main permainan tradisional, mungkin iya. Karena mereka memang sudah sangat jarang mainan hal begituan.
Namun, jika di depan gadget hanya dianggap ngabisin waktu, rebahan, nunduk, kayak orang zikir, tanpa ngapa-ngapain selain nonton dan ngegame, itu nggak sepenuhnya benar, meskipun mungkin ada satu dua yang memang begitu.
Anak-anak kami sendiri, terutama Ci Akak alias anak sulung, saya lihat dia kreatif menggunakan gadgetnya. Ngonten di youtube, yah meskipun kontennya masih khas anak-anak seusianya, dan kadang berantem juga sama anak lain, baik dari luar negeri ataupun dalam negeri sendiri karena saling klaim karakter tokoh, setidaknya dia berpikir keras untuk menuangkan idenya dalam bentuk konten video.
Menurut saya itu sudah merupakan kreativitas.
Saya lihat anak sulung juga sering membuka AI untuk bertanya banyak hal. Buka google, Seringnya sih Google Translate untuk mencari tahu arti kata tertentu, seperti bahasa Inggris, Jepang, atau Korea.
Kadang juga dia searching sesuatu. Misa, “Raja Namrud matinya karena apa?” “Pohon tertua di dunia ada di mana? Namanya apa?” Dll.
Day 1 No Gadget. Jam Setengah Sepuluh Malam
Sebenarnya no Gadget bagi anak-anak hari ini adalah hukuman.
Ceritanya, kemarin malam sebelum isya datang, saya sudah sangat mengantuk, karena malam sebelumnya memang nyaris tidak tidur, siangnya juga tidak. Alhasil.jam setengah 7 saya sudah sangat ngantuk.
Saya bahkan lupa, waktu ibu mertua mengetuk pintu di jam itu, ngapain. Seringnya sih ngasih makanan. Cuma karena saya setengah tidur, alhasil belum bisa mengingat sampai sekarang.
Pagi yang "Sensi"
Hari pertama dimulai. Pagi suasana rumah terasa sedikit menjengkelkan, Ci Akak yang seharusnya libur sekolah saya suruh masuk karena ada upacara hari pendidikan. Padahal sore dia sudah menawar, “kalo pura-pura sakit aja gimana, Bund?”
Maksudnya mau buat alasan untuk tidak masuk. Etapi, Emak gak izinkan dong anak belajar bohong. Jelek pulak bohongnya. Coba pura-pura kaya, siapa tau bakal kaya beneran kan?
Ci Akak mulai menunjukkan tanda-tanda "sakau" gadget yang khas. Gampang marah dan hobi bikin gara-gara. Apa pun yang dilakukan adiknya selalu salah di matanya. Adiknya diganggu, dipancing keributan, bahkan hingga adiknya pulang sekolah. Sampai saya harus mengomel mereka berdua karena ribut terus.
Alhamdulillahnya, keajaiban terjadi saat usai zuhur Ci Akak sepertinya mulai bosan. Dia pun mengajak adiknya mainan di luar.
Masak-masakan dan Lempar Sandal
Siangan dikit, drama pagi itu menguap. Ci Akak mulai melunak. Tanpa disuruh, dia mengajak adiknya main masak-masakan. Bahkan sempat pakai api segala untuk masak beneran. Ceplok telur.
Tidak lama kemudian, mereka bergabung dengan teman-teman di luar untuk main lempar sandal.
Ada satu momen yang membuat hati saya mencelos. Saat sedang asyik bermain, kaki Ci Adik tidak terkena batu. Saat itu, ada teman lain yang mengejek.
“Alah gitu doank aja.”
Mendengar itu, Ci Akak langsung tidak terima. Dia tidak mau adiknya disepelein.
“Giliran yang lain jatuh aja, langsung ditanya, ‘kamu gak papa?’ giliran Adek yang kena batu aja dibilang ‘lebay’ ya aku marahlah.” Adu Ci Akak kepada Emak.
Alhamdulillah hati emak ‘nyess’ mendengarnya. Begitulah seharusnya Kakak beradik. Saling membantu dalam kebaikan.
Transformasi yang Luar Biasa
Setelah zuhur, keajaiban berlanjut. Jam 3 sore, waktu yang biasanya masih digunakan untuk malas-malasan, Ci Akak sudah mengajak adiknya mandi lalu berangkat ngaji.
Ini tumben pake banget! Biasanya suruh ngaji tu Emak harus merepet dulu panjang kali lebar.
Setengah jam kemudian, seoerti biasa Ci Akak pulang duluan. Izin mau sepedaan.
Tak lama kemudian Ci Adek muncul.
“Bund, Aa baik sekali hari ini.” (Ci Adek belum begitu bisa menggunakan huruf ‘K’ sehingga manggil Kakak jadi Aak”)
“Iya dong, Kakak Adek emang harus saling baik.” balas saya.
“Waktu aku mau pulang, Aa ambilin sepeda, katanya biar aku gak capek jalan kaki.”
Masya Allah…
Jelang maghrib, Ci Akak minta izin masak mie instant, sejak siang belum makan.
“No mie, ceplok telur aja.” kata Emak.
Tumben tidak banyak drama. Dia pun ceplok telur. Daan sekalian bikinin adeknya donk. Telur dadar pedas
Masya Allah. Lagi-lagi Emak merasa bahagia.
Ajaibnya lagi, selesai makan, tanpa instruks, Ci Akak mengambil alih peran di dapur.
Mencuci semua piring kotor sampai dapur kembali kinclong, lalu menjadi imam salat bagi adiknya. Melihat punggung kecil itu memimpin doa, rasa marah saya semalam benar-benar luruh.
Malamnya, mereka kembali bersepeda bersama teman-temannya di depan rumah.
Puncaknya, saat Ci Akak memiliki uang Rp2.000, tanpa diminta, diapun membagi rata Rp1.000 dengan adeknya.
Masya Allah…
Ternyata, No Gadget bukan sekadar hukuman. Ini membuat Ci Akak kembali menjadi kakak yang shalihah, perhatian, dan mandiri.
Semoga ini adalah pemahaman buat mereka berdua, bahwa kebahagiaan tidak melulu soal scroll layar gadget tetapi adanya kebersamaan dan kasih sayang.
Day 1 sukses dilewati. Mari kita lihat kejutan apa lagi di Day 2 besok! Semoga akan menjadi hari yang lebih baik dari hari ini.
Bismillah…

