Pinangkan Dia Untukku, Perjalanan Tak Terlupakan

Tips agar jodoh segera tiba

Tantangan dari One Day One Post kali ini adalah, menuliskan tentang kejadian di luar expektasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya, namun terjadi, dan tak terlupakan di sepanjang kehidupanmu. Saya akan menuliskan satu kisah yang tak terduga, tetapi sungguh itu merupakan kisah yang menjadi titik balik kehidupan saya untuk selanjutnya. Tentang seorang pria yang dikirim Tuhan dengan cara yang luar biasa. Kisah hidup yang memiliki banyak kesamaan, dua keluarga yang memiliki wajah saling mirip satu sama lain, hingga seperti sebuah film yang sekenarionya ditulis oleh penulis handal.


Mari kita mulai dari sebuah ucapan.

"Lamarkan dia untukku."

Apa yang ada dalam benakmu ketika mendengar atau membaca kalimat permintaan di atas? Seorang pria yang meminta dipinangkan seorang wanita untuk menjadi istrinya? Benar.

Tetapi ini terjadi justru sebaliknya. Seorang wanita yang meminta agar dilamarkan seorang pria untuk menjadi suaminya. Di sini apa yang terlintas dibenakmu? Khadijah melamar Muhammad? Itu benar juga.

Tetapi, kejadian ini terjadi kepada wanita yang bukan Khadijah, dan sedang tidak melamar Muhammad. Kejadian ini adalah kisah cinta yang terjadi pada sepasang manusia dari kaum millenials beberapa tahun lalu.

BACA JUGA: MEDIA MASA BUAT CARI JODOH

Dihempas Sebatang Kara

Rasanya terlalu sakit ketika diri menyadari bahwa pernikahan harus kandas pada perjalanan yang baru seumur jagung. Kepercayaan diri terasa hancur lebur menyadari bahwa diri ini hanya diperalat oleh seorang pria dengan dalih dakwah. Bagi saya, semua pria adalah keparat ketika itu. Berjalan seorang diri, jauh dari keluarga, tak satu pun saudara, aku dihempaskan begitu saja di tengah kota Jakarta.

Beruntung ada kenalan dari facebook yang sangat baik, menampung, mencarikan kerja, membiaya hidup selama saya belum peroleh kerja. Semoga Allah beri kesempatan saya untuk membalas semua kebaikan dia. Mbak Mala.

Putri Biru Yang Jutek

Hidup di kota seorang diri, saya terus belajar mandiri. Tidak bergantung pada siapapun kecuali Sang Pencipta. Tidak berharap pada manusia, tidak juga percaya. Saya hanya milik saya, dan menjadi diri sendiri. Bersikap angkuh dan acuh untuk membentengi diri.

Suatu hari, kenalan lama yang berasal dari kota yang sama dengan saya menyapa, menanyakan kabar tepatnya. Rasanya enggan sekali menanggapi.
"Apa salahku padamu, kenapa begitu ketus padaku?" Tanyanya. Aku hanya tersenyum sinis. Apa pedulinya dia padaku?

Lalu saya mengubah identitas diri, saya ingin melupakan semuanya. Untuk itu, saya butuh meluahkan semua rasa sakit di dada. Dan saya pun tidak ingin orang tahu, bahwa luka itu dialami oleh saya. Saya pun membuat akun facebook baru, nama baru, sosok baru. Saya tidak bisa lagi bersikap manis kepada para pria. Sejak itu saya di kenal sebagai putri biru yang jutek dan tegas.

Lika-liku Dekat Dengan Pria Baru


Sifat tegas dan jutek yang saya perlihatkan, ternyata justru membuat banyak pria penasaran. Di antara mereka ada yang terang-terangan, ada yang secara diam-diam, dan ada yang meminta bantuan orang lain agar bisa menjalani kedekatan. Sayangnya hati saya benar-benar tertutup. Beberapa kali saya mencoba untuk membuka hati endingnya selalu menyakiti. Ada yang sudah tahap belanja seserahan, ada yang sudah pesan batu permata untuk mahar, ada yang sudah mengambil cuti kerja, tetaap saja akhirnya saya tidak bisa lanjut dengan mereka karena hatinya belum siap untuk menerima.

Pertemuan Di Masjid At-Tin Jakarta Timur

Saat itu saya adalah sekretaris di sebuah organisasi milik seorang mantan preman yang telah taubat. Beliau ahli dalam menjodohkan seseorang agar menikah, sayangnya beliau dan istrinya tidak pernah berhasil membuat saya menikah dengan pria rekomendasi dari mereka. Beberapa kali diproses ta'aruf (sering digunakan sebagai istilah saling kenal dalam Islam untuk pasangan yang berniat menikah) akhirnya tetap batal.

Akan tetapi, bagaimana ketentuan Allah hendak berjalan, tak seorang pun mampu menahan. Allah lah yang membolak-balikkan hati manusia. Suatu hari, kami ada rapat di masjid At-Tin, tepatnya 21 Oktober 2014. Semua yang hadir dipinta mengenalkan diri. Saat itulah bersuara seorang pria berkulit gelap, berjanggut tebal namun tidak panjang, memperkenalkan diri. Saya tidak begitu tertarik dengan yang dia sampaikan. Saya hanya mengingat namanya saja, apalagi setelah itu, kami satu rombongan pergi ke rumah sakit menjenguk teman yang sedang dirawat. Kami naik mobil, dia mengikuti kami naik motor.

Ketika kami sampai di rumah sakit Fatmawati Jakarta Selatan, dia masih belum kelihatan. Bahkan hingga kami hampir pulang usai sholat maghrib.

"Kemana dia? Kenapa belum muncul?" Perhatian saya tersebut sama sekali tidak ada tendensi apa pun. Itu adalah murni sebagai perhartian seorang pengurus sebuah komunitas kepada anggotanya yang kemungkinan tersesat atau terjebak macet di jalanan.

Menjodohkannya Dengan Teman

Beberapa hari berlalu sejak pertemuan itu, saya melakukan perjalanan ke suatu tempat, di dalam angkutan umum supir memutar lagu, "Kau terindah, dan selalu terindah, harus bagaimana kumengungkapkannya." Entah mengapa, hatiku tiba-tiba terasa ngilu, lalu terbayang wajah pria yang mengenalkan diri di masjid At-Tin. Jelas saya mencoba mengelak dan berusaha menepisnya. Kenapa pulak dia yang muncul?

Sayangnya, bayangan dia begitu kuat mencengkeram seluruh ruang ingatanku. Ditambah, setiap kali saya membuka Facebook dia selalu muncul, entah di beranda, di grup, dan di postingan saya. Setiap kali saya update status, dia selalu ngelike dan komentar.


Kesal dengan diri sendiri, saya menghubunginya, "Kamu.mau nikah nggak?"
"Iya donk."
"Aku ada kenalan, gadis, keponakannya teman. Kamu siapkan biodata ya, nanti dipertemuan dia akan saya ajak, saya kenalkan kamu dengannya." Saya kesal, karena itu saya ingin dia segera menikah biar hengkang dari hadapan saya.
"Baik." Sahutnya. Kami memanggilnya Mr. Bee.

Seminggu kemudian pertemuan itu tiba. Saya dan bibinya si akhwat, mendampingi mereka untuk berkenalan, sayangnya keduanya belum cocok sehingga tidak bisa lanjut.

Di kesempatan berikutnya saya kembali mencoba menawarkan kenalan kepada Mr. Bee. Saya pikir, jika dia menikah, maka hati saya akan lebih tenang, karena kehadirannya sungguh mengganggu hati saya.
"Hei."
"Ya?"
"Nggak trauma kan untuk mencoba ta'aruf lagi?"
"Nggak donk."
"Kenalanku, gadis, baik, pendiam, dan siap menikah. Minggu depan insya Allah dia datang di pertemuan, saya akan kasih lihat padamu. Ini biodatanya, silakan dipelajari."
"Baik." Sahutnya singkat.
"Segera kirimkan biodatamu."

Setelah pertemuan.
"Hei, tadi sudah lihat kan akhwatnya yang mana?"
"Sudah."
"Insya Allah dia siap menerima kamu dan anakmu." Mr. Bee ini duda punya anak, Saudara-saudara! "Saya belum sempat kirimkan biodatamu ke dia, insya Allah malam ini saya berikan.
"Jangan dulu deh." Sahutnya.
"Maksudnya?"
"Sepertinya saya belum bisa. Karena saya ada pandangan lain." Sahutnya.
"Oh, ok. Jika tidak keberatan, beri tahu saya, siapa akhwat yang kau inginkan, biar saya bantu lagi untuk memprosesnya."
"Maaf tidak bisa."
"Kenapa?"
"Mau minta didampingi yang lain saja." Jujur, mendapat jawaban seperti itu, rasanya sangat sedih. Kenapa dia menolak untuk diproses oleh saya?

Pernikahan Itu

Awalnya beberapa hari saya tidak menghubungi Mr. Bee. Tetapi karena kami dalam satu komunitas, dan dia telah diangkat menjadi admin, kami jadi semakin sering komunikasi. Diskusi, dari permasalahan anggota, keuangan, perencanaan, refreshing, dan lain sebagainya. Tentu saja tidak berdua, karena kami ada banyak pengurus di grup.

Hingga suatu diskusi di grup sosial media kami saling sindir. Kesal dengan gayanya yang nantangin, saya pun menulis, "Mbak Ratri (nama salah satu pengurus di grup) tolong donk lamarkan Mr. Bee untuk saya." Disaksikan oleh puluhan ribu anggota.

Di kemudian hari Mr. Bee mengaku, ketika dia sedang berjalan sepulang sholat asar di masjid, seperti ada seorang perempuan berjilbab biru lebar ikut berjalan di sampingnya. Saat bertemu dengan saya, dia merasa wanita itu adalah saya.

Juga di satu malam ketika sedang tidur, Mr. Bee terbangun di tengah malam, saat itu tiba-tiba teringat wajah saya. Padahal kami belum saling kenal ketika itu.

Rupanya, ketika saya menawarkan diri untuk memproses ta'arufnya, dia menolak karena ingin meminta bantuan pengurus lain agar bisa proses ta'aruf dengan saya. Wakakakak.

Singkat cerita, kami pun menikah di Jakarta Timur, 03 Januari 2015, dan telah dikaruniai 2 buah hati yang cantik nan shalihah.

Semoga langgeng dalam kebahagiaan dunia akhirat.

Ida Raihan
Ida Raihan

Hanya Seorang Ibu Rumah Tangga Dengan Dua Orang Anak Yang Suka Menulis Dan Membaca

14 comments:

  1. Ribet amat yak jodoh itu. Haha

    Aku pun pernah saat SMA, ingin mencomblangi suamiku itu dengan temanku. Alasannya karena aku gak suka dia dekat aku.

    Entah kenapa malah ketika dia jauh, aku jadi kecarian.

    Dari SMA, sampe berbagai drama akhirnya kami menikah.
    Begitulah, jodoh itu suka lucu.

    ReplyDelete
  2. Senang banget bacanya, berasa baca cerpen romance tapi ini real story. Alhamdulillah, setelah luka dan duka yang dilalui Allah memberikan jalan untuk bertemu dengan jodoh yang terbaik ya mbak.

    ReplyDelete
  3. Senang baca kisahnya seperti di film tapi nyata . Semoga samawa ya mba ..

    ReplyDelete
  4. Sukaaa banget bacanya. Alhamdulillah ternyata memang cara Allah menjodohkan kita tuh suka bikin mesam mesem gini, ya. Semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah yaa kak. Aamiin

    ReplyDelete
  5. semoga sakinah mawadah warohmah till jannah ya kak ida sayang 😍😍😍😍
    Bahagia bacanya. Jodoh tuh ya gitu ya Allah kasih pada saat yang tepat

    ReplyDelete
  6. Saya belum ada keberanian nulis tentang pertemuan ama suami. Hihi, nantilah kl udah siap ahaha...

    Btw semoga samara yaa Mbak Ida, rukun hingga ke surga💓💓

    ReplyDelete
  7. Allahumma Aamiin semoga langgeng dunia akhirat ya mba. mirip loh sama suaminya, jodoh kan emang katanya mirip ya hihi. sehat selalu sekeluarga mba.

    ReplyDelete
  8. Setelah mengarungi pahitnya hidup, akhirnya mendapatkan kisah yang Manis, ya, mbak, kalo jadi ftv mungkin judulnya, "Mak Comblang Ketemu Jodoh", hihi. Bahagia selalu mbak

    ReplyDelete
  9. Masyaa Allah, meskipun cowok saya suka tersentuh dengan cerita begini. Memang Allah punya rencana yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh kita ya Mbak.

    ReplyDelete
  10. Masya Allah, jodoh emang benar-benar rahasia Yang Maha Kuasa ya, ternyata orang yang tidak terduga malah jadi berjodoh
    semoga jadi keluarga yang sakina mawaddah warohmah ya mba

    ReplyDelete
  11. Rupanya percintaan sista Ida juga penuh lika liku juga ya... Sampai pada akhirnya bisa berjumpa dengan orang yang pas.... Jutek ada manfaatnya juga ya hihi biar jadi penuh misteri

    ReplyDelete
  12. Masya Allah..semoga perjalanan selanjutnya penuh kasih sayang dan saling menjaga ya,Mbak. Barakallah :)

    ReplyDelete
  13. Masya Allah, memang cerita Allah itu tidak ada yang tahu, seperti ini seperti apa kelak jodoh kita. Tapi aku masih percaya jodoh kita adalah cermin kehidupan kita.

    ReplyDelete