Pages

12 March 2018

Bahagia Itu Pilihan. Benarkah?

"Menurutmu, kamu, hidupmu bahagia nggak sih? Hayuu siapa yang berani jawab dengan jujur...



Saya bahagia. Jawaban itulah yang saya berikan ketika salah seorang kerabat menelepon dan menanyakan kondisi saya. Tempat tinggal saya yang juga masih mengontrak petakan tidak luput dari pertanyaannya. Saya menjawab semua pertanyaannya apa adanya, hingga sampai pada pertanyaannya seperti yang tertulis di atas.

"Kalau saya hidup seperti kamu, saya tidak akan bahagia." Lanjutnya. Saya hanya tertawa. Bahagia itu terkadang sederhana, namun tidak sedikit pula yang merasa begitu sulit menggapai bahagia. Dan saya patut bersyukur karena saya telah diberi kebahagiaan.

Orang bilang bahagia itu pilihan. Menurut saya tidak. Bahagia itu takdir.


Ayah dan anak bahagia

Menurut suami saya bahagia itu tujuan. Berlandaskan doa yang selalu dia baca di setiap bakda sholatnya, mungkin. Rabbanaa aatina fiddunya khasanah, wa fil akhiraati khasanah, waqina 'adzabannar. Yang meminta kebaikan dunia dan akhirat. Yang intinya kebahagiaan dunia akhirat.

Saya mengatakan kebahagiaan itu sebagai takdir, karena bedasarkan pengalaman masa lalu saya. Ketika saya belum menikah diusia 26 tahun, sementara adik-adik saya sudah pada memiliki anak. Saya merasa tidak beruntung. Saya sesih dan gelisah. Kemudian saya pun meminta jodoh kepada Yang Kuasa. Dengan sedikit memaksa agar dinikahkan di tahun itu. Benar saja, Allah kabulkan doa saya. Saya menikah dengan orang yang salah. Orang yang tak mampu membahagiakan saya. Penuh dengan dusta. Saya berusaha lepas dari kondisi tersebut, namun tetap berkubang dengan keadaan seperti itu. Saya berfikir, mungkin Allah marah, karena saya berdoa sambil memaksa. Padahal Dia sudah mempersiapkan jodoh yang baik buat saya. Berat badan saya turun drastis, dari 43 - 45kg menjadi 36 - 37kg. Saya tertekan lahir dan batin.




Tetapi, Allah Maha Baik dan Lembut. Ketika saya memutuskan berdoa meminta jalan kedamaian, jalan kebahagiaan bagi saya, lagi-lagi Allah mengabulkan doa saya. Sayangnya jalan yang dipilihkan Allah tidak jauh beda sakitnya dari menjalani rumah tangga yang penuh kedustaan itu sendiri. Saya shock berat, dan putus asa ketika itu. Beruntung tidak lama kemudian, orang-orang yang hadir berhasil menghibur dan menyingkirkan 'kesakitan' yang saya alami.

Perlahan namun pasti Allah mulai menghadirkan kebahagiaan demi kebahagiaan dalam hidup saya. Yang terus berlanjut hngga saat ini. Alhamdulillah.

Dari perjalanan hidup, saya jadi meyakini,  bahwa kebahagiaan itu dibagikan sesuai takarannya oleh Allah. Ketika Dia mentakdirkan seseorang untuk bahagia, maka bahagialah orang tersebut. Meskipun hidup pas-pasan dan tinggal di kontrakan.

Jika ada yang mengatakan kebahagiaan itu harus diusahakan, saya juga tidak akan mengingkarinya. Karena saya percaya, doa adalah salah satu bentuk usaha manusia. Bahagia juga perlu dipinta dari Sang Maha Pemberi kebahagiaan. Seperti halnya doa di atas. Rabbanaa aatina fiddunya khasanah, wa fil akhiraati khasanah, waqina 'adzabannar.

Semoga kita semua peroleh bahagia.

Tabik
Ida Raihan
Jum'at, 23 Februari 2018 (23:08)


14 comments:

  1. baahgia itu bisa diusahakan ya tergantung dari diri sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian besar berpendapat begitu. Saya tidak. Boleh ya beda. :)

      Delete
  2. Dan kebahagiaan sejati itu dari hal-hal yang diridhai Allah ya Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mak. Kalo yang gak diridhoi, semu belaka.

      Delete
  3. begitulah cobaan hidup mbak, semoga kita selalu dekat dengan-Nya agar tak terjerembab dalam jurang kesedihan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa Rahmaan. Iya Mbak. Kuncinya dibanyak banyak bersyukur.

      Delete
  4. Bahagia menurut takarannya setiap orang beda-beda ya mba. Beda cara mensyukurinya. Saat dapat uang 20rb duh alhamdulillah Allah ngasih rizky. Tapi ada orang yang tidak bahagia dengan rizky segitu karena merasa tidak puas. Padahal kenapa tidak disyukuri saja ya Mba.:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalo dapetnya dari nemu di saku pakaian suami saat dicuci ya Mbak. Seneeng kayak dapet bonus milyaran. Hahahha...

      Delete
  5. Bahagia itu tergantung dari hati kita bagaimana mensyukuri keadaan yg Allah berikan, mbak

    ReplyDelete
  6. Setuju sama komen diatas bahagia itu bagaimana mensyukuri nikmat yang diberikan mba

    ReplyDelete
  7. sepakaaat, bahagia memang sudah ada takarannya, tinggal gimana cara kita menikmatinya ya, Mbak. Kadang bahkan kesulitan dan segala kesakitan itu terjadi hanya untuk membuat kita sadar kalau kita sedang diberi kebahagiaan.

    ReplyDelete