Pages

30 April 2017

Saat Menjadi Kartini

Ilustrasi phitonya anak pada acara Kartini


Kesempatan tampil sebagai Kartini, saya jalani pertama kali ketika saya masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Itu merupakan pengalaman pertama dan sampai sekarang belum pernah melakukannya lagi.

Satu pengalaman yang tidak akan pernah saya lupa, setiap kali membicarakan Kartini, Hari Kartini, dan apapun mengenai Kartini, adalah tetangga saya. Saya memanggilnya dengan sebutan Mbok Nah, dan anaknya Mbak Ning.

Saat itu ibu saya sedang tidak di rumah. Saya hanya dengan ayah dan satu kakak perempuan saya. Mereka punya kesibukan sendiri-sendiri. Sebagai anak kecil yang belum mengerti cara meminta tolong pada orang lain, maka saya pun hanya diam. Tidak ikut ribut seperti teman-teman yang lain, yang sibuj mengumpulkan sanggul, peniti, kain jarik, kebaya dan kosmetik. Saya sadar diri, bahwa saya tidak layak untuk melakukan hal serupa.

Bersyukur Allah berniat tidak membuat saya bersedih. Dalam kondisi begitu, ketika sedang bermain di tempat Mbok Nah, beliau bertanya, "sesok kon Kartinian, Da." Saya jawab, "Nggeh."
"Kowe reneo ae tak pacak'i. Mamakmu ra nengumah to?"
"Iyo, Da. Reneo, ngko aku sing medak'i." Sahut Mbak Ning. Anak perempuan kedua, sekaligus anak ke enam Mbok Nah. Sebenarnya saya ragu, tetapi mereka sepertinya bersungguh-sungguh untuk merias saya. Maka esok paginya setelah mandi, dengan riang hati, saya langsung meluncur ke tempat Mbok Nah. Mereka telah menyediakan jarik, kebaya, benting, sanggul dan peralatan make up. Dengan cekatan saya saya langsung ditangani oleh Mbok Nah dan Mbak Ning. Padahal mereka sambil memasak buat sarapan.

Pada acara Kartinian


Tidak sampai satu jam saya dihias. Begitu selesai, dari rumah mereka saya langsung berangkat ke sekolahan. Bertemu teman-teman sekolah, adalah biasa saling bertanya "siapa yang merias". Saya sih jujur saja, bahwa yang merias saya adalah tetangga. Hehe...

Di sekolahan diadakan upacara. Dan ketika masuk kelas rasanya senang sekali ketika kami peroleh pujian dari guru, "tampak cantik-cantik".

Sepulang dari acara kartinian itu, saya langsung mengembalikan semua peralatan yang saya kenakan kepada Mbak Ning. Begitu saja, tanpa berfikir perlu mencucinya lebih dulu. Hikz, hikz...

Sepenggal kisah yang tak terlupakan. Semoga Allah beri pahala berupa surga kepada Mbak Ning dan Mbok Nah.

Ida Raihan
Cikarang, Minggu, 21 April 2017 (19:17)

10 comments:

  1. Allah Maha Baik ya mbak. Selalu memberikan yang terbaik dan jalan keluar disaat sempit. 😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Mbak Lucky. Coba kalo Allah gak ngirim bantuan itu, Ida pasti gak berangkat ke sekolahan waktu itu, dan gak bisa merasakan menjadi Kartini walau beberapa jam.

      Delete
  2. wiiihh mantap nih, cantik banget

    ReplyDelete
  3. cantiknya mbak anaknya...seneng ya melihat mereka ujug2 udah besar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak. Sudah bisa ngebantuin pekerjaan rumah.

      Delete
  4. Alhamdulillah banget ya mba selalu ada kemudahan. Aku belum pernah merayakan kartini, mba. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya alhamdulillah, Mbak. Ini juga baru sekali itu, tugas sekolah Mbak. Makasih ya udah mampir. Salam kenal...

      Delete
  5. Alhamdulilah :)

    Hasilnya canti setelah dirias, aku sendir liat anak kecil pake hijab itu bagus. Di ajarkan sedari kecil agar bisa terbiasa hingga besar nanti ya, Mba..

    Btw, salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mas. Insya Allah. Makasih banyak udah mampir. Salam kenal.

      Delete