Pages

03 May 2015

Menyamakan Frekuensi Dengan Jodoh Kita

Ilustrasi dari Google
Bismillah… Seorang anak kecil sangat menyukai kalung imitasinya. Tetapi sang ayah tahu benar kalung itu sangat tidak bagus bagi putrinya. Ianya bisa berakibat iritasi di lehernya.
Suatu malam si ayah membujuknya agar kalung tersebut diberikan kepadanya. Si anak keekeuh mempertahannya. Ayah yang bijaksana ini tidak memaksa, tetapi hampir setiap malam dia mendatangi putrinya untuk meminta dan melepaskan kalung tersebut. Akhirnya suatu malam yang entah sudha ke berapa kalinya, si anak mengalah dan memberikan kalung tersebut pada Ayahnya.
Ke esokan harinya, sang ayah memanggil putri tercintanya. Alangkah bahagianya ketika si putri ini mengetahui apa yang diberikan ayahnya. Sebuah untaian kalung yang lebih indah. Dan yang pasti kalung tersebut bukan imitasi!
Pernah membaca kisah ini Sahabat-Sahabatku? Apa yang kau proleh dari cerita di atas?


Ya. Terkadang kita begitu keukeuh mempertahan apa yang kita anggap baik dan indah. Kita tidak pernah tahu bahwa di balik keindahan itu bisa saja menjadkan kesengsaraan bagi kita.
Ketika kita mencintai sesuatu, kita begitu ingin memilikinya. Kita merasa itulah yang terbaik. Begitu yakin, itulah yang seharusnya menjadi milik kita. Padahal, terkadang Allah sedang menyiapkan yang jauh lebih baik daripadanya. Tetapi karena kita enggan melepaskan, maka Allah tetap membiarkan hal tersebut terjadi. Dan tetap menyimpan apa yang telah Ia siapkan untuk diberikan kepada kita.

Contoh sederhananya, ketika kita mencintai seseorang. Setiap saat kita berbisik, “Tuhan jodohkan aku dengan dia.” Pada setiap helaan nafas di sela-sela aktivitas. Pada setiap sujud. Pada setiap mengangkat tangan. Tak pernah terfikirkan oleh kita, bahwa di sana, Allah sedang menggembleng sosok yang jauh lebih baik dari sosok yang kita pinta setiap saat. Kita tetap merasa sosok yang tampak itulah yang terbaik.

Allah tahu kapan Dia akan memberikan sosok yang tepat bagi kita. Sesuai janji-Nya, “Pria baik-baik untuk wanita baik-baik.” Begitu juga sebaliknya. Tugas kita di sini adalah, bagaimana caranya agar kitac bisa meningkatkan kualitas diri menjadi yang terbaik. Agar ketika dia yang tengah digembleng oleh Allah siap untuk diterjunkan ke bahtera rumah tangga, kita siap menyambutnya. Jangan sampai di sana sudah menjadi pribadi yang baik, dan mencari kita, sementara kita di sini masih disibukkan oleh hal-hal yang tak bermanfaat, mengharapkan sosok lain yang bukan ditakdirkan. Yang demikian, jangan salahkan Allah jika kita tidak segera dipertemukan, karena ibarat sebuah radio, frekuensi kita belum menyambung dengannya.
Dengan begitu, alangkah lebih baiknya kita tetap meminta, tetapi tidak membatasi dan mendahului kehendak Allah.

“Yaa Allah… jodohkanlah aku dengan dia, atau dengan sosok yang lebih baik daripadanya.” Wallahua’lam. Wallahua’lam.

Semoga bermanfaat

Ida Raihan
Kramat Jati, Jum’at, 17 Okt 2014 (18:56)

No comments:

Post a Comment