Pages

13 April 2015

Aku Lelah Mengejar Jodohku, Tuhan

Gambar diambil dari google
Pagi, waktu masih menunjukkan angka sembilan kurang, ketika dua orang wanita single itu duduk berdekatan. Yang satu sedang menatap layar computer, yang satunya sedang diam duduk di kursi. Entah apa yang memulai perbincangan, tetapi keduanya sampai kepada sebuah pernyataan yang sama. “Aku lelah dengan semua ini.”
Mereka bicara tentang sebuah hubungan antara pria dan wanita. Cinta dan pernikahan.

“Sebenarnya maunya Allah itu apa? Mengapa selalu begini? Sudah terlalu banyak yang datang dan pergi. Tetapi hingga detik ini masih sama, perpisahan yang sakit!”
“Terkadang aku membayangkan, disini aku berdiri, lalu di ujung sana suamiku berdiri. Di antara kami berdua, ada banyaaak sekali pria. Untuk sampai kepada suamiku, aku harus melalui satu-satu persatu pria-pria ini. Menampari mereka hingga tumbang. Hanya saja aku tidak pernah tahu. Masih ada berapa banyak lagi pria yang harus kutampar agar aku bisa mencapai suamiku?”
“Terkadang aku juga menghujat, Allah.Jika para pria itu bukan yang ditakdirkan sebagai jodohku, mengapa Dia harusmempertemukan aku dengan dia? Dan ada asmara antara kami? Membiarkan aku berharap, menuyusun mimpi bersamanya? Mengapa, Allah? Seharusnya Allah tidak mempertemukan aku dengan mereka-mereka. Bukankah Dia juga yang membuat hukum agar manusia menjaga hatinya?”
Hmmm… Seru ya, keluhan mereka? :D


Mungkinkah, di antara sahabat di sini ada yang pernah mengalami hal demikian? Saya yakin banyak. Mungkin juga sebagian kita akhirnya merasa, betapa tidak adilnya, Allah, dengan hanya memberi kita beban, beban, dan beban. Padahal Dia Mahatahu apa yang sangat kita dambakan.
Lalu, mengapa Allah masih sajamemberikan ujian? Allah memiliki jawabannya. Yuk, kita simak apa kata, Allah.

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh mala petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan sehingga berkatalahRasul dan orang-orang yang beriman yang bersamanya: “Bilakah datangnyapertolongan Allah.” Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Allah sengaja memberikan ujian kegagalan bukan tanpa alasan. Kadang cobaan itu ringan, kadang dengan sebuah permasalahan yang berat. Amat berat bahkan. Tetapi Allah tahu, sebatas mana kemampuan si hamba sebagaimana yang Dia firmankan di ayat lainnya, “Allah tidak akan menguji seorang hamba di luar batas kemampuannya.”

Ada pesan luar biasa pada ayat tersebut,yaitu, untuk mendapatkan sebuah kebahagiaan, maka diperlukan perjuangan. Berupaujian yang tidak ringan. Jika kita lulus ujian, insya Allah keindahan dan kebahagiaan bisa kita dapatkan.

“Tetapi aku benar-benar lelah dengan semua ini.” Ya, benar. Sebagian dari kita sampai frustasi dan engganmelakukan pencarian lagi bahkan. “Tak ingin gagal lagi.” Kata mereka.

Lalu, bagaimana cara menghentikan rasa lelah tersebut? Coba lakukan ini:
1. Dengan Penerimaan. Menerima,bahwa semua ini, adalah bagian sekenario Allah, yang menginginkan kita meningkatkan kualitas diri. Jangan-jangan diri kita ini masih tertinggal jauh di belakang? Atau jangan-jangan kita hanya menghabiskan banyak waktu untuk hal sia-sia? Kadang kita tidak sadar bukan?
2. Belajar dari pengalaman sebelumnya. Mengapa masih gagal lagi? Di mana letak kesalahannya? Mungkin kita terlalu memaksakan kehendak? Padahal di hati sudah ada peringatan, namun kita mengabaikan?
3. Lebih Selektif: Dalam artian,tidak menerima sembarang orang yang mengajak kita untuk ta’aruf. Pertimbangkanlah baik-baik sebelum menerima. Minimal, ada beberapa (dua atau tiga) kecenderungan yang sama. Jangan asal, “Ah jalani dulu, siapa tahu cocok.” Karena merasa umur sudah 30 plus. Libatkan Allah dalam setiap keputusan (istikharah).
4. Pasrahkan seutuhnya kepadaAllah. Dengan kepasrahan yang benar-benar tulus. Penuh keyakinan bahwa Allah tengah menyiapkan sosok yang terbaik di antara terbaik untuk kita. Dengan demikian insya Allah, hati akan lebih tenang. Dan insya Allah, tidak ada lagi rasa lelah yang berakhir dengan hujatan kepada Allah.

Wallahua’lam. Semoga bermanfaat.

Ida Raihan
Kramat Jati, Rabu, 09 Juli2014 (21:53)

No comments:

Post a Comment